A Sweet and Hectic Goodbye

Hari itu akhirnya tiba. Hari dimana aku meninggalkan Belanda dan melepaskan residence permit ku. Saat itu aku memang sudah jenuh di Belanda. Aku nggak bahagia lagi. Satu-satunya plus tinggal di sana hanyalah uang. Tapi kesehatan mental tidak bisa dibeli dengan uang, jadi pulang merupakan keputusan terbaik.

Aku sudah berhenti kerja dari sebulan sebelum pulang. Aku ingin membandingkan saja apakah kalau aku nggak bekerja, aku bakal lebih happy. Tapi ternyata tidak, obatnya memang hanya Indonesia.

I’m coming home, coming home… Tell the world I’m coming home…

Biasanya kalau mahasiswa internasional mau pulang, Ia akan menjual barang-barangnya. Karena apartemen harus kosong ketika inspeksi dan penyerahan kunci. Tapi, karena saat itu corona lagi merebak, aku takut ketemu orang. Jadi aku bilang saja ke calon penghuni apartment selanjutnya, kalau aku mau ngasih dia, semua furniture dan tanaman aku. Dia pun setuju.

Hari inspeksi dan penyerahan kunci adalah hari yang sama dimana kita (aku dan suami) terbang ke Indonesia. Hari itu kita ternyata masih sibuk bersih-bersih. Lebih tepatnya buang-buangin barang. Kita harus memastikan kulkas, lemari, dan kamar mandi kosong. Aku juga menyapu bersih semua barang di atas meja. Sampah tersebut langsung kita buang ke tempat sampah di pusat kota, karena tempat sampah gedung apartemen kami kecil.

Tidak berapa lama, aku teringat…

“Passpor aku ada di tas kecil yang tadi aku buang”

Suamiku pun langsung stress. Aku nggak pernah liat dia se stress itu. Ya iyalah, beberapa jam lagi kita harus terbang ke Indo, eh passport, satu-satunya barang terpenting, malah dibuang dan nggak tau bisa diambil atau tidak. Karena tempat sampah di Belanda itu, kebanyakan nyampe ke bawah tanah.

Dari luar terlihat kecil
Begitu diangkat.. wew.. hampir separuh truk sampah.. nanti bagian paling bawahnya kebuka buat ngebuang sampah ke truknya.

Tempat sampah di pusat kota, lebih besar dan lebih dalam dari ilustrasi tempat sampah di atas. Jadi bisa dibayangin, kenapa suami ku panik banget. Suamiku menyarankan untuk menelpon gementee atau kantor wali kota, tapi sabtu libur dan ga ada orang. Akupun nekat aja langsung ke lokasi dan bawa sapu buat mancing.

Alhamdulillah ternyata tempat sampah lagi dalam keadaan penuh dan sehabis kita buang sampah, belum ada lagi orang yang buang sampah. Tempat sampah nya agak tinggi, jadi aku harus digendong di pundak suami buat mancing tas itu. Aku berhati-hati, takut tasnya terjun bebas. Akhirnya kita berhasil mengambil tas berisi passport itu. Ada penjaga toko yang melihat kita dan cekikikan “I should’ve taken a picture of you guys because that was so funny.” Dan aku tidak mengelak. Coba aja dia motoin kita, bisa aku taro di blog sini kan.

Setelah kejadian itu, aku amat bersyukur. Walaupun aku grogi akan hasil inspeksi, aku berpikir “nothing worse could happen”.

Pemilik gedung datang bersama anaknya. Ia memeriksa listrik dan segala rupa dan Ia bilang tidak ada kerusakan. Tapi dia bilang kulkas, dapur dan kamar mandi kurang bersih. Tidak lama setelah itu, calon penghuni setelah kita tiba. Yang datang ternyata pacarnya. Mungkin dia tidak komunikasi sama pacarnya jadi dia banyak complain kenapa banyak furniture yang ditinggal. Dia juga bilang gak suka sama taneman2 indoor di situ. Dalam hati, aku udah nyes aja “kalau bisa dibawa ke Indonesia sih, aku bawa semua” 😭

Kami sepakat untuk bayar 50 euro dan diberikan kepada penghuni setelahnya untuk bersih-bersih. Alhamdulillah karena deposit 800 euro aku kembali.

Kami pergi ke bandara naik bus 2x dan kereta. Untungnya walaupun jalur kereta lagi ada perbaikan, masih ada bis pengganti untuk ke stasiun Utrecht. Di Stasiun Utrecht ramai sekali, kirain ada gangguan jadwal kereta, karena biasanya begitu. Ternyata cuma ada pertemuan anak-anak Tiktok. Alhamdulillah.

Sesampainya di Schipol aku langsung narik semua uang yang ada di OV chipkart aku, kartu untuk transportasi. Kitapun makan bakso di restoran Indonesia di bandara tersebut. Overpriced memang, tapi yang penting happy.

Penerbangan pulang kami cukup menyenangkan. Karena awal corona, jadi agak sepi. Aku nggak bisa tidur, mungkin karena terlalu bahagia.

Aku nggak menyebut kepulangan ini sebagai back for good alias pulang untuk selamanya. Aku mungkin udah bukan merupakan orang yang kerja di perusahaan bioteknologi di Belanda. Tapi aku masih orang yang sama dengan skillset yang sama dan mungkin akan bertambah. Kembali ke Belanda atau ke belahan bumi yang lain bukan hal yang mustahil.

Tapi untuk saat ini, aku mau istirahat. Aku dan suami ku punya goal lain yang ingin kita capai.

Sampai jumpa Belanda. Tempat di mana aku berpetualang selama empat tahun dalam hidupku. Aku belajar banyak. Terima Kasih. Alhamdulillah.

Berlarut-larut mengingat kegagalan

Aku ingin banget PhD, tapi aku takut tulisan aku gak bagus. Aku juga takut nggak bisa berkomunikasi dengan pembimbing. Pas di Belanda, sempat ada periode dimana aku merasa aku ngga bisa bahasa Inggris. Orang-orang sering banget ngomong “I’m sorry what did you say?” ke aku.

Ada satu momen yang paling membekas. Aku lagi diskusi tentang tesis sama dosen dan asdos. Dosen aku ngga ngerti sama penjelasan aku. Terus aku ngejelasin dengan cara lain. Terus beliau bilang “I’m sorry, I’m really lost here. Asdos, do you understand?” Asdos bilang “no”. Saat itu aku merasa dipermalukan dan sedih. Air mata aku menggenang. Aku berusaha buat ngga ngedip biar air mata itu nggak jatuh. Kemudian aku keluar dan nangis deh. Aku sering keinget itu tiap kali aku muncul keinginan untuk PhD.

Itu adalah salah satu contoh perilaku avoidant menghindari suatu hal karena anxiety atau grogi karena alasan yang tidak jelas kebenarannya.

Selama ini, anxiety aku, aku kubur dalam-dalam aja. Karena solusinya gampang. Aku ngga usah PhD dan ngga usah milih untuk tinggal di luar negri aja. Tapi ternyata mengubur emosi itu adalah stress response yang nggak sehat dan bikin kita cepet tua.

Hubungan antara stress dan penuaan dini tersebut dijelaskan oleh Dr. Elizabeth Blackburn dan Dr. Elissa Epel, di bukunya yang berjudul The Telomere Effect: A revolutionary approach to living younger, healthier. Penelitian mereka mengenai telomere tersebut mendapatkan nobel prize. Dr Elizabeth adalah molecular biologist yang meneliti telomere di binatang kecil. Telomere adalah rangkaian dna yang berada di ujung-ujung kromosom.

Telomere adalah yang berwarna putih di kromosom yang bentuknya seperti huruf X

Dr. Elizabeth menemukan bahwa setiap kali sel membelah, telomere menjadi semakin pendek. Sehingga panjang telomere dapat menjadi acuan untuk menentukan umur sel. Dr. Elissa tertarik dengan telomere tersebut. Dia adalah psikolog yang menangani orang tua2 dari anak berpenyakit kronis. Ia melihat para orang tua tersebut terlihat lebih tua dari umurnya sehingga Ia ingin mengetahui apakah stress mempengaruhi umur biologis seseorang. Hasilnya ternyata benar.

Ketika panjang telomer habis, sel-sel dalam tubuh kita tidak dapat saling berkomunikasi dengan benar sehingga muncul berbagai masalah. Antara lain, sistem imun melemah, inflamasi, sakit jantung dan paru-paru.

Kabar baiknya, panjang telomere itu reversibel. Karena kita punya enzim telomerase. Berdasarkan eksperimen, enzim tersebut dihasilkan banyak saat meditasi. Selain itu perubahan psikologis seperti memiliki tujuan hidup juga menambah enzim telomerase.

Oke, itu bagian tentang telomere. Sekarang bagaimana hubungannya dengan mengubur emosi. “Sekarang, coba jangan pikirkan beruang kutub!” Pasti malah beruang kutub yang ada di otak kita. Ketika kita mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, kita akan memikirkan itu, terus perasaan kita jadi ngga enak, terus kita jadi merasa bersalah karena dan ngga enak karena kita ngga enak. Udahla stress dobel-dobel. Kesian telomere kamu.

Jadi, aku memutuskan untuk tidak mengubur perasaan dan aku akan menghadapinya. Caranya adalah 3R, terinspirasi dari youtube ADHD brain: how to deal with failure anxiety tapi aku sesuaiin aja.

Recognize

Sadari bahwa emang pengalaman gagal nempel lebih kenceng dibanding pengalaman baik. Penelitian[1] yang dilakukan oleh sejumlah ahli di Tel Aviv Medical Center dan Departemen Neurosurgery UCLA, menemukan bahwa ketika kita melakukan sesuatu yang berresiko, bagian otak yang aktif adalah hippocampus, bagian yang berhubungan dengan memori dan anxiety. Tapi ketika kita mengalami kemenangan atau kesuksesan otak bagian tersebut tidak aktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengalaman buruk cenderung lebih disimpan di memori dibanding pengalaman sukses.

Remember

Ketika kita sudah menyadari bahwa memori kita ada biasnya. Kita bisa coba lagi mengingat-ingat fakta sebenernya tanpa dipengaruhi emosi.

Contoh, pengalaman buruk yang selama ini aku ingat berulang-ulang adalah aku didebat sama dosen sampai nangis. Padahal kalau aku ingat-ingat lagi, besoknya dosen tersebut minta maaf. Terus beliau pun jadi pembimbing internship aku dan komunikasi kita abis itu baik-baik aja.

Reframe

Setelah mengumpulkan semua fakta-fakta, kita bisa mengubah sudut pandang kita. Kemudian kita dapat menyusun ulang narasi di memori kita.

Misal, kalau di kasus aku. Ceritanya aku ubah jadi begini. Saat itu, lagi summer di Belanda, dan mood aku paling jelek pas summer karena kurang tidur. Terus, aku ngerjain tesis dengan banyak tekanan. Dosen pembimbing pun punya tekanan sendiri. Ia bilang saat itu udah siang jadi dia ngantuk dan cranky. Jadilah kejadian clash tersebut yang tak terelakan. Tapi pada akhirnya, aku bisa menyelesaikan tesis aku. Kesulitan yang amat berat pada masa tesis, menjadikan internship aku, seperti jalan-jalan di taman. Mudah, santai dan healing. Mungkin juga sikap santai itu yang bikin aku ditawari kerja di sana. Jadi kesulitan itu secara tidak langsung merupakan alasan kesuksesan.

[1] Gazit, T., Gonen, T., Gurevitch, G. et al. The role of mPFC and MTL neurons in human choice under goal-conflict. Nat Commun 11, 3192 (2020). https://doi.org/10.1038/s41467-020-16908-z

Anxiety mungkin pertanda baik

Doa itu adalah doa yang paling sering aku ucapkan saat lari2 di antara safa dan marwah. Saking aku pengen banget bisa terbebas dari rasa gelisah. Rasanya mental breakdown mungkin leih ngga enak dibanding rasa sakit secara fisik. Sampai biasanya aku harus makan fire chicken noodle yang super pedes supaya rasa “sakit mental di dada” itu bisa teralihkan ke rasa sakit beneran di mulut karena kepedesan.

Tapi ternyata Allah menjawab doa aku dengan sakit beneran. Selama tiga minggu aku ngga bisa kemana-mana. Makan susah, ngomong susah, tidur pun susah. Tapi yang aku baru sadari belakangan ini, selama aku sakit, aku ngga pernah mengalami mental breakdown. Pikiran aku tentunya fokus ke gimana caranya biar aku bisa sembuh. Bukannya mikir yang macem-macem yang bisa bikin gelisah.

Dari situ aku mulai menyadari sesuatu. Anxiety itu mungkin tanda kalau sebenernya hidup kita beruntung.

Kita mikir aneh-aneh.. karena kita punya badan sehat jadi kepala bisa mikir.

Kita merasa terasingkan di tempat kerja, karena kita beruntung punya kerja.

Kita bisa nangis overthinking memikirkan hal ngga jelas… karena kehidupan kita jelas-jelas aja. Kita udah jelas masih punya keluarga, masih bisa makan, masih punya tempat bernaung dan lainnya.

Mindset itu yang akan aku pakai kalau aku lagi mulai anxious. Mungkin ini terdengar kaya toxic positivity, tapi terkadang emang pemikiran itu powerful banget untuk mengatur perasaan.

Tapi mungkin ini nggak berlaku untuk anxiety disorder atau yang anxiety nya itu memang penyakit. Kalau penyakit ya memang mungkin harus terapi dan kalau udah parah, minum obat. Atau kalau kita sudah mengenal trigger anxiety kita, kita bisa latihan sendiri dan belajar mengendalikannya.

Oke sekian.

Wassalamualaikum

How to take criticism without feeling offended

I just realised that people in general take a lot of offense on things that were not made to attack them or their humanity/personality. Sometimes criticisms are only for your actions and for your decisions, not your entirety.

Maybe things would be less offensive if we started taking ourselves out of the equation, acknowledging that we have errors in judgment and that there should be accountability for all our actions.

BUT it is important to understand that while we should be accountable and face consequences, Let’s not make our actions define our identities. Being accountable for our actions is admitting to doing them and if we are criticised, then we should be learning from the criticism, not turning it out to be wrongdoing against usor a way to silence our energies.

The negative energies that are thrown upon us can always be converted or avoided if need be, but our egos act like reflective shields that will strike back with just as much negativity that we receive and that doesn’t end the cycle of exhausting toxicity.

Credit: Chweleesoz on twitter

Why do I like to label myself

Dulu aku ngerasa aku aneh. Aku jarang nyambung ngobrol sama orang dan aku merasa beda deh dari orang-orang. Tapi bukan beda yang unik dan estetetik kaya anak jaman sekarang, lebih kayak beda yang “I don’t fit in”, kayak salah pake baju seragam di hari rabu yang harusnya pake batik. Dan aku merasa, apa yang salah dari diri aku?

Terus pas kuliah temen aku, Whina, nyebut-nyebut tes MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Dia bilang dia adalah INTJ (the mastermind (si perencana)), terus aku mikir, paling aku juga INTJ, terus ternyata, aku adalah INTP (the logician (si pemikir)) Saat itu aku belum terlalu mempelajari MBTI, terus pas kuliah di Belanda, temen aku ada juga yang suka sama MBTI, namanya Lita, dan ternyata dia juga seorang INTJ. Jadi dari situ kita mulai sering diskusi.

Dan dari Quora aku jadi ngeuh kalau MBTI itu pake cognitive functionnya Jung dan itu mirip sama teori STIFIN dan hasilnya agak sejalan.

Aku tes STIFIN pas SMA. STIFIN nentuin tipe personaliti pakai sidik jari. Tipe STIFIN aku Thinking Ekstrovert (Te), tapi INTP itu main functionnya Thinking Introvert, jadi kayanya kepribadian aku agak berubah dari lahir. Nah, pokoknya dari situ aku ngerasa, tipe kepribadian itu berpola dan masuk akal.

Mungkin kalau kalian kurang familiar sama MBTI, aku jelasin singkatnya yah, kalau mau yang ribet itu penjelasannya pakai Jungian Functional Stack, tapi riweuh. Jadi, MBTI menelompokkan orang berdasarkan:

  1. Dari mana dia dapat energi? I (introvert: dari dalam dirinya), E (ekstrovert: dari luar dirinya)
  2. Gimana dia memperoleh informasi? N (intuiting: informasi abstrak yang cuma bisa dibayangin), S (sensor: informasi nyata yang bisa diindera)
  3. Gimana dia membuat keputusan? T (thinking: logis dan kaku), F (feeling: empathetic, situasional, mempertimbangkan orang lain)
  4. Gimana dia menjalani hidupnya? J (judging: terencana), P (perceiving: fleksibel).

Rata-rata orang yang aku kenal, alias manusia komputer, mereka itu INTJ. Introvert karena jelas buat kerja di depan komputer seharian, cuma orang introvert yang ga bosenan. Intuitive karena coding itu banyak berimajinasi, buat bikin alur data dan logic nya. Thinking karena coding itu hard logic, kalo bener ya bener, kalo salah ya salah. Judging karena programmer yang sukses itu yang tak tek cepet gitu. Penjelasan lebih okenya sih, INTJ itu cognitive function nya adalah Ni-Te (Intuiting Introvert-Thinking extrovert), jadi dia untuk menyelesaikan masalah, bakal nyari-nyari masalah serupa sebelumnya jadi dia problem solving lebih cepet. Dibanding INTP yang cognitive functionnya Ti-Ne (Thinking introvert-intuting extrovert), INTP kalau ada problem, dia bakal nyari referensi dari framework logika di otaknya yang udah dia bangun dalam waktu yang lama.

Gampangnya, INTJ itu adalah Jimmy Neutron pas lagi bilang “kekuatan otak”,

INTP itu adalah Richard Hendriks di Silicon Valley, dia butuh satu episode buat ngambil keputusan.

Jadi apa manfaat mengetahui tipe personaliti?

Yang pertama buat aku, Kita jadi tau kekuatan kita. Thinking itu jago menginvestigasi masalah. Dari situ aku tau, walaupun aku ngga pinter-pinter amat di sekolah, aku berpotensi jadi dokter, saintis, atau programmer. Dan aku tau ke introvert an aku itu sebenernya adalah kelebihan, karena nggak semua orang tahan duduk sendirian di depan komputer lama-lama untuk menyelesaikan masalah. Kebanyakan orang akan bosan.

Banyak orang tidak suka dengan labelling ini karena label banyak digunakan sebagai alasan orang malas berubah. Misal “Sori aku emang telat mulu dan ga taat peraturan karena aku adalah intuiting”.

Setelah mengetahui tipe aku, aku malah lebih berusaha untuk memperbaiki diri. Kayak ketika kita sakit, pasti lebih mudah diobati kalau kita tau penyakitnya apa.

Jadi masalah aku adalah, aku orangnya susah berteman. Aku tau bahwa aku emang pada dasarnya susah nyambung sama orang-orang karena pemikiran aku yang kompleks dan aku nggak tertarik sama hal-hal trivial. Aku susah bersosialisasi sama orang-orang karena kehidupan sosial nyedot energi aku.

Karena aku tau tipe aku, untuk mencari solusinya aku biasanya google “Improve social skill INTP” terus bakal muncul jawaban-jawaban dari orang INTP.

Atau aku bakal nge-follow orang-orang sukses dengan tipe sama kaya aku di Quora. Menurut aku saran dari mereka lebih membantu dibanding kalau kita minta saran ke orang yang beda tipe, mereka bakal bilang “masa cuma ngobrol-ngobrol di kantin pas istirahat aja susah?”. Mungkin perumpaannya seperti, kalau kita mau cari tau cara masuk Harvard, pasti lebih bermanfaat info dari orang Indonesia yang kuliah di Harvard, daripada dari orang Amerika yang kuliah di sana, karena kesamaan latar belakang.

Intinya, setiap manusia memang diciptakan unik. Tapi pelabelan ini membantu aku untuk mencari orang-orang yang setipe sama aku, sehingga aku lebih mudah untuk menyelesaikan masalahku. Terkait dengan keakuratan nya, dan apakah dia saintifik atau tidak, aku pun belum tau banyak. Yang jelas, sejauh ini labelling membantu aku. Personality test bukanlah agama, jadi ngga usah serius-serius amat. Ambil yang bermanfaat aja.

Sekian dan terima kasih. Apakah tipe kamu?

Kerja di Belanda (part 1): Background and curcol

Di sini aku mau ngasih konteks latar belakang, siapakah aku dan kisahku sampai bisa kerja di belanda. Karena prespektif aku di tulisan part2 nanti pasti dipengaruhi dari konteks ini. Di sini aku bukan mau pamer sombong tapi aku cuma mau share siapa tau bermanfaat. I write it in my blog because everyone who lands on this page must have deliberately and consciously clicked on a link to read this. So you’re here because you wanna be here. Duh kok jd galak hihi. Ngga kok..

Tldr: Best thing I never wished for~ uwu

Is it the best thing that ever happened to my life? Ngga juga. Tapi ini impian banyak orang, bahkan orang Belanda sendiri, dan aku ga pernah ngira aku bisa dapet kerja di Belanda makanya aku bilang I never wished karena aku ngga pernah ngarep, karena kayanya susah.

Waktu mudik ke Indonesia pas masih kuliah, aku langsung kambuh alergi debunya. Terus umi aku bilang “berarti kamu alergi Indonesia dan emang mesti nyari cara buat tinggal di Belanda” dan aku cuma ngebatin “yakali makk”. Pas aku balik lagi ke Belanda, aku ngobrol sama mbak2 bule Belanda di kereta. Dia lulusan Wageningen jurusan architecture tapi dia kerja di kantor pos Postnl. Aku tanya2 tentang kerjaannya dan dia bilang emang cari kerja di Belanda susah banget jangankan mau yang sesuai sama jurusan kita.

Terus aku mikir, IPK S2 aku ga bisa diandelin, kalo dibandingin kecerdasan anak belanda mah jauh banget. Apalagi kalau wawancara kerja, aku grogian dan orang belanda itu kalau ngomong mengintimidasi.

Setelah itu pas abis balik mudik dan nikah, alhamdulillah rezeki jadi banyak. Tepat sehari setelah aku nyampe di Wageningen aku sidang thesis dan setelahnya internship. Professor aku juga baik dan cekatan banget. Biasanya kan Professor itu ngga suka ngurusin administrasi tapi beliau malah yang ngedorong aku buat cepat nyelesein semua dokumen kontrak internship, dan aku ngga harus ngerevisi thesis.

Ohiya cerita aku dapet internship juga kaya keberuntungan banget. Jadi di program Bioinformatics, setelah tesis aku dapet pilihan; internship, group project, training nulis research paper, atau second thesis. Aku udah telat buat daftar ke semua program itu, jadi aku pilih internship.

Aku ngelamar ke 4 perusahaan dan cuma 1 yang keterima. Pas aku wawancara pertama, anehnya aku ngga grogi sama sekali. Aku malah cuma kaya ngobrol aja.

Terus aku dipanggil buat wawancara kedua buat wawancara sama calon supervisor. Dan lucunya aku udah kenal sama supervisor duluan pas ada acara di kampus. Jadi pas acara itu, aku kaya ada ngegerakkin buat dateng ke acara itu. Aku tertarik banget sama judulnya “computer science meets bioinformatics”. Oh that’s me. Tapi aku males dateng karena aku liat yang dateng cowo semua. Tapi karena aku tau salah satu pembicaranya itu dosen aku perempuan jadi aku akhirnya dateng dan ngobrol sama dia. Abis itu dia harus nyiapin presentasi kan, terus aku ngobrol sama orang lain. Sampai orang itu ngomong dia kerja di tempat aku akan internship itu. Terus aku bilang.. yes, aku mau internship di situ InsyaAllah. Terus dia bilang “oh are you adzkia?”. Yep. “Kayanya aku akan jadi supervisor kamu” dan saat itu aku lega banget karena aku belum tau aku lolos wawancara pertama apa ngga dan aku udah dapet bocoran.

Guys, sori kalau sejauh ini w agak lebay dan merasa beruntung ini itu. Karena w kuliah di luar negri cuy. Kalau ga lulus tepat waktu repot. Mesti ngurus perpanjang visa lagi sendiri, bayar spp sendiri 40juta perbulan.

Oke, pas internship aku juga ngerasa seneng. Proyek aku tuh seru. Belajar tentang paralel computing trus bisa ngeliat proses di lab nya. Temen sesama intern juga friendly dan dia punya basic di genetics dan statistics jadi bisa banyak nanya ke dia.

Saat itu aku dimasukin ke software development group dan mereka lagi cari pegawai baru. Aku diajak ikut-ikutan ngewawancarain orang-orang yang udah jauh lebih expert hihi. Sok iye.

Program yang aku bikin jadinya cepet jadi aku banyak liburannya haha. Terus aku ditawarin kerja deh. Serius aku bahagia banget.

Kemudian aku liburan ke Indonesia. Disitu aku merasa galau. Di Indonesia aku ngerasa tenang banget hidup sama suami aku. Sementara di Belanda aku hampir tiap hari mental breakdown. Entah kenapa di Belanda aku jadi sensitif. Kalau lagi seneng sih seneng tapi kalau ada orang ngomong nyakitin sedikit aja, langsung pengen nangis. Dan yang bikin lebih berat lagi, visa suami aku jadi nya nyusul jadi aku harus balik duluan ke Belanda.

Awal-awal kerja, aku sih fine2 aja. Sampai sekarang juga fine2 aja sih. Cuma makin kesini aku merasa makin bosen, makin ga kompeten, makin ga cocok. Tapi aku ga mau ga bersyukur.

Mungkin aku dibesarkan di lingkungan yang punya mindset perempuan itu cocoknya di rumah, jadi aku di kantor merasa ga cocok.

Mungkin memang aku ga nyambung sama orang-orangnya jadi aku merasa kesepian.

Aku pengennya sih pulang ke Indonesia. Tapi aku juga takut menyia-nyiakan kesempatan. I can’t stay but I can’t let go.

Setelah dua tahun kerja di Belanda, aku ingin merefleksikan apa aja untung rugi kerja di sini. Kalau mau tau.. cek postingan blog ku selanjutnya.

Plus minus tinggal dan bekerja di Belanda

Setelah dua tahun kerja di Belanda, aku ingin merefleksikan apa aja untung rugi kerja di sini. Plus minus perbedaan kalau kerja di Indonesia dan Belanda:

1. Uang

Plus:

Ini jelas banget Belanda menang. Gaji expat, untuk perusahaan komersil, minimal 3300 euro atau sekitar 55 juta rupiah per bulan.

Banyak orang muslim belasteran indo di belanda yang pengen kerja di indo tapi ga jadi karena kalo ditransfer dari perusahaannya, terus pake gaji Indonesia, jadinya cuma 6 jutaan, sementara kalo kerja di Belanda gaji mereka 20 juta.

Minus:

Tapi emang pengeluarannya beda. Pajak penghasilan itu 30-40%, terus kontrak apartment 840 euro perbulan, asuransi kesehatan wajib 100 euro perbulan. Transport juga mahal, naik bis atau tram sekali jalan jarak dekat 2-4 euro (50rb), kereta 20 euro. Makanya orang belanda seneng naik sepeda. Murah dan sehat. Jadi gaji segitu rasanya biasa aja.

2. Perlindungan terhadap hak karyawan

Plus doang:

Di Belanda, kalau kita punya kontrak kerja, kita ga akan bisa diberhentikan sepihak kecuali kita melakukan sesuatu yang parah banget. Kita juga punya hak 30 hari cuti pertahun dan tetap dapat gaji. Ditambah cuti ADV, aku kurang tau itu cuti apa. Pokoknya kalau ditotal kita bisa cuti 2 bulan. Kalau sakit juga ga harus pake surat dokter karena penyakit itu dianggep privasi.

3. Rekan kerja

Plus:

Aku sering ngeliat berita kalau di negara2 eu semakin kesini semakin rasis dan Islamophobia. Tapi untung itu bukan yang aku rasain di tempat kerja aku. Karena aku kerja di perusahaan riset (bioteknologi), mereka highly educated dan udah sering ketemu orang asing, jadi mereka baik2 banget. Terutama di grup aku, kita semua beda kewarganegaraan jadi lebih pengertian satu sama lain. Dan kita bukan tipe perusahaan yang koar-koar diversity. Tapi secara natural aja kita kebentuk kaya gini. Mereka passionate di bidang mereka dan pinter2 banget.

Minus:

Tapi kalau ngobrol sehari2 aku ngerasa ga nyambung sama mereka. Orang bule yang highly educated itu biasanya hati-hati banget kalo ngomong. Mereka ga mau bikin kita tersinggung jadi obrolan tentang agama, relationship, dan private matters dihindari. Jadi yang diobrolin cuma cuaca dan kegiatan pas liburan. Aku ngerasa kita ngobrol bukan karena kita, dari hati, peduli sama orang lain, tapi lebih untuk pengisi waktu coffee break supaya ngga burn out aja.

Kalau dibandingin sama Indonesia jadi kaya orang indo kepo, orang sini shallow.

4. Culture kerja

Plus:

Di Belanda or at least di kantorku mereka sangat memperhatikan pemisahan antara kantor dengan rumah. Jadi aku ga pernah bawa kerjaan pulang kecuali emang pas work from home.

Mereka juga mengutamakan team work dalam bekerja. Jadi jarang ada orang toxic yang berusaha ngejatuhin kita. Semua orang sama-sama belajar dan saling tolong menolong.

Minus:

Di Quora aku pernah baca ada orang dari eastern europe yang bilang kerja di start up di belanda kaya kerja di Uni soviet. Wkwk. Mungkin itu extrim sih. Soalnya orang belanda break bareng2, makan siang bareng2, happy hour abis kerja bareng2. Kalau kita makan siang sendiri dianggap asosial. Belanda memang mungkin bangsa ekstrovert, sama kaya Indonesia.

Yang aku rasain juga sama sih. Sebagai introvert aku rada capek kerja di kantor dengan kultur ekstrovert gitu. Di tempat aku satu ruangan isinya 8 orang. Jujur aku ngga suka karena aku ngerasa cuma dengan duduk di meja kerja aja energi sosial aku kesedot. Pilihannya kalau mau pindah, ada ruangan yg isinya dua cowo, tapi aku ga mau karena salah satu dari mereka ada yang tiap hari senin libur jadi nanti cuma berdua di ruangan.

Kita ditaro di ruangan berdelapan dengan niatan dari manajemen supaya ada interaksi antara lab people, bioinformatician, statistics people dan software people, sehingga memercikkan inovasi dan ide cemerlang. Tapi tetep aja orang kalau kerja ya masing-masing, kadang pake headset. Dan kalo ada orang dateng dari grup lain yg ngobrol dan ga ada hubungannya sama kita, jadi malah berisik.

Setiap jam 10 dan 16 ada coffee break. Satu perusahaan ngumpul di kantin atau balkon. Aku jarang ikut karena energi sosial aku abis. Jadi aku ke attic tempat aku sholat biasanya tidur2an atau video call ke rumah. Jam 12 ada istirahat makan siang, aku biasa pulang ke rumah atau janjian sama suami makan dimana gitu. Hal ini bikin aku merasa ga fit in dengan kultur kantor.

…..

Selain pertimbangan di atas, ada juga faktor x, yang g datang dari perkerjaan tapi berpengaruh ke kualitas hidup, dan jadi pertimbangan apakah aku mau pulang ke Indonesia atau enggak.

1. Lingkungan dan transportasi

Pluus:

Mungkin ini yang aku akan merasa kehilangan kalo pulang ke Indonesia. Ke kantor aku bisa naik sepeda udaranya segar, pemandangannya bagus. Tiap minggu harus ke luar kota ngga masalah karena keretanya enak. Sistem transportasinya rapih dan bersih.

2. Kemudahan buat travelling

Plus:

Naik kereta 3 jam udah nyampe prancis, swiss, jerman. Sejam naik pesawat nyampe ke spanyol, italy, yunani dll. Kalau mau pergi haji pun ga pake kuota. Jadi daftar tahun itu, berangkat tahun itu juga.

3. Makanan

Minus:

Nah ini mungkin kekurangannya. Di Belanda ngga banyak warteg, restoran sunda ataupun padang. Jadi kalau mau makan harus masak sendiri.

Plus:

Tapi positif nya kita InsyaAllah pulang-pulang dari belanda langsung jago masak.

4. Cuaca atau iklim

Plus:

Salju~~ aku cinta banget sama musim dingin kalau lagi turun salju. Pemandangannya kaya narnia. Udah gitu ngga dingin. Di belanda, justru pas salju turun itu agak anget udaranya, soalnya hari sebelum turun salju pasti dinginnya menusuk minta ampun.

Udaranya juga kering jadi ngga keringetan dan jalanan ngga becek. Jarang ada nyamuk.

Mendung terus. Banyak orang bule yang bilang di Belanda itu depressing, gray, ngga ada sinar matahari. Kalau aku sih suka banget, justru cuaca bagus menurut aku itu kalo mendung2 sebelum ujan.

Minus:

Daylight saving time alias pada bulan maret-oktober siangnya lama banget. Sholat subuh jam 4 pagi, sholat magrib jam 9 malam, isya jam 11. Sebagai night owl, it’s not okay for me.

Jadwal sholatnya pun terus berubah-ubah setiap hari. Ada sister Belanda yang pernah bilang “Indonesia itu kaya negara yg diciptain buat Muslim. Jadwal sholat nya selalu sama. Cuacanya juga enak”

Mungkin sekian plus minus kerja di Belanda. Apakah lebih banyak plus atau minus? Yang terpenting kita mensykuri dimana pun kita berada. Wassalamualaikum wrwb.

RumahQu aamiin

Bismillahirahmanirrahim,

Diriqu ingin punya rumah. Kata suami, rumah lebih murah kalau bangun sendiri. Ntah kenapa tiba-tiba hari ini semangat banget buat ngedesain rumah. Mungkin gara-gara abis nonton film The Intruder, terus w merasa, wih pewe banget istrinya begitu abis belanja, masuk rumah langsung dapur. Jadi w berpikiran untuk mendesain rumah yang sangat mengakomodir penghuninya yaitu w. Mungkin ini agak nggak realistis buat Indonesia, misal kalo kayu takut lumutan dan sebagainya tapi, biarin lah, namanya juga amatiran yang bermimpi, go big or go home. If you’re building it from scratch, might as well design it beautifully. Soal apakah bapak bimo mengapprove, atau pake arsitek, urusan nanti.

Bagian depan rumah nya simple aja yang penting modern. Ohiya, disclaimer, semua foto aku ambil dari pinterest. Kecuali Floorplan aku bikin di RoomSketcher.

βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž– Team URBAN99 ( alumnus ITN-UGM-POLNES )  inspirasi sebuah fasad  Follow ☞  #Karyastudio99  work with the heart…

rumah syantiko1
Ruang tamu

Continue reading “RumahQu aamiin”

Things I wish I could ask to the person I just met

Sometimes I think I’m bad at being social. But then I think maybe I just don’t enjoy having a superficial conversation. People say, never ask about money, religion and politics to the person you’re not really close to. But the problem is they are all that I care about. Talking about things just for sake of talking dries me up. But I love having one to one conversation. I enjoy doing interviews. I wanted to be reporter growing up. I just wish I could ask anything to the person without offending them or without being afraid they could think I’m crazy. Here are the questions I wish I could ask;

Continue reading “Things I wish I could ask to the person I just met”