Ketika Teh Pahit Terasa Manis

Di kantor ku, di pantry nya ada berbagai macam teh dari berbagai sumber. Yang paling favorit dan cepet habis adalah teh jahe citrus. Suatu hari saat coffee break aku ngobrol sama teman saya yang dari Cina sambil minum teh tersebut.

“Aku gak suka teh jahe yang itu, manis banget.” kata dia

“Ya gak usah pake gula lah.” kataku.

“Wait.. did you put sugar on your tea?”

“Yes, I did”

“It’s already too sweet even without sugar.”

Terus aku teringat teman cina ku yang lain saat kuliah juga ada yang heran aku minum teh pake gula, karena menurut dia teh itu udah manis.

Orang Belanda lain di kantor ku juga kalau minum teh pakai gulanya sedikit banget.

Gula yang berlebihan memang punya banyak dampak buruk bagi tubuh. Dia bisa bikin kita mudah lapar, bikin ketagihan, dan bisa menghambat kerja otak. (Untuk sumber, lihat di akhir tulisan)

Ada juga salah satu senior researcher di kantor ku, dia umurnya sekitar 70 tahun. Tapi dia masih sangat fit. Dia tiap tahun ikut winter marathon lintas tiga negara. Dia gak pernah izin sakit, dia bahkan gak tau mekanisme izin sakit ke kantor gimana. Dia bilang dia gak pernah olahraga, paling cuma jalan kaki tiap lunch dan sepedahan kemana-mana. Mungkin rahasia dia bugar, karena dia nggak suka “gula”. Dalam arti dia nggak suka cake, minuman bergula, dll, tapi dia tetep makan apa aja, coklat pun, asalkan mahal, tetep dia makan, nggak terlalu freak lah. Pokoknya dia pernah bilang kalau gula itu kayak drugs, jadi mending gak usah coba-coba.

Terus aku coba lah mengurangi gula dalam diet aku. Dimulai dari gak minum yang manis-manis. Aku akuin minuman manis bisa jadi instan energy boost tapi dia kandungan gulanya banyak, apalagi kalau kita ngebiasain nyetok jus box atau soft drink di kulkas. Beuh. Aku pun mencoba untuk minum teh tanpa gula. Awalnya emang pahit, tapi setelah beberapa hari, beneran jadi manis loh.

Mungkin ada kekurangannya kalau palette taste kita berubah. Beberapa orang bilang masakan aku kurang asin dan kurang berasa. Wkwk. it’s ok

Bibliography…

Avena, Nicole M., Pedro Rada, and Bartley G. Hoebel. “Evidence for sugar addiction: behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake.” Neuroscience & Biobehavioral Reviews 32.1 (2008): 20-39.

Molteni, Raffaella, et al. “A high-fat, refined sugar diet reduces hippocampal brain-derived neurotrophic factor, neuronal plasticity, and learning.” Neuroscience 112.4 (2002): 803-814.

Shearrer, Grace E., et al. “The impact of sugar sweetened beverage intake on hunger and satiety in minority adolescents.” Appetite 97 (2016): 43-48.

Biaya hidup di Belanda

Halo, aku menulis ini karena suka ada yang nanya, untuk tinggal di Belanda berapa biaya hidupnya? Kira-kira beasiswa yang dia lamar mencukupi atau tidak? atau pekerjaan yang dilamar gajinya cukup atau tidak?

Di sini aku akan memberikan gambaran biaya hidup perbulan tersebut.

Apartemen atau Rumah (student=400e/Rp 6.8 juta, non-student=980e/Rp. 16.8 juta)

Biaya ini merupakan bagian terbesar yang akan kalian bayar. Di Belanda, setiap apartemen biasanya ada peruntukannya, misal untuk mahasiswa, non-mahasiswa, seorang, dua orang, pasangan beranak satu dst. Non mahasiswa tidak boleh tinggal di apartemen untuk mahasiswa. Pasangan pun tidak boleh tinggal di apartemen yang untuk satu orang.

Untuk mahasiswa, apartemen berkisar 270-600 euro. Biasanya apartemen yang dibawah 350 euro itu yang sharing kitchen dan bathroom. Kalau mau yang all in, biasanya di atas 420 euro.

Untuk non-student, one bedroom apartemen (1-2 orang) berkisar 600-1500 euro.

Biaya tersebut sudah termasuk air, gas, listrik, dan internet unlimited.

Biasanya untuk apartemen yang on the expensive side, bisa apply rent subsidy ke pemerintah. Kalau diterima nanti pemerintah ngasih duit beberapa persen dari rent kita buat ngebantu kita. Misal, dulu pas jadi student, rent aku 414e terus aku apply rent subsidy, dan dikasih 80e per bulan sama pemerintah.

Makan (200e/Rp. 3.5 juta)

Ini setiap orang berbeda-beda. Tapi rata-rata orang indo yang aku tanya, ngebudgetin 200 euro, dan mereka bilang 200e itu sudah sangat mencukupi.

Untuk gambaran, harga individualnya,

  1. Snack rata-rata harganya sama kaya di indo
  2. Buah. Apel, kiwi, pear, lebih murah di Belanda daripada di Indo. Buah tropis jelas jauh lebih mahal di belanda.
  3. Sayur. satu bongol selada, seiket pokchoy, bayam, masing-masing biasanya 1 euro.
  4. Beras. 5 liter harganya 5 euro.
  5. Meal. makanan chinese, india, indonesia yang ada di kantin biasanya 5-8 euro. Kalau di restoran (yang biasa aja bukan yg fancy), 7-15 euro per makanan.
  6. Rempah-rempah. Ini yang menurutku agak mahal. Bawang putih 2 biji harganya 1 euro. kencur 1 jari harganya 1 euro (17 ribu, mo nanges).

Belanja baju, sepatu, buku dll (~100e/Rp. 1.7 juta)

Ini sangat tergantung sama kamu sih gaes. Ini juga gabisa dibudget perbulan but it needs to be in the budget jadi ini angka kira-kira aja. Baju, sepatu, barang eletronik harganya cenderung sama. Malah untuk fast fashion (hnm, zara, bershka) di Belanda lebih banyak salenya. Untuk buku, mungkin lebih mahal daripada buku Indonesia. Buku buat kuliah biasanya sekitar 40-120 euro.

Transport (0-120e)

Karena biasanya di belanda, semua orang naik sepeda, biaya transport bisa jadi 0 perbulan. Kalau aku sendiri biasanya weekend suka ke luar kota jadi aku langganan kereta perbulan 30euro, bisa naik kereta sepuas hati hari sabtu dan minggu. Untuk bis biasanya 3-4 euro. Jadi perbulan buat jalan-jalan saat weekend kira-kira 80euro. Oh iya kalau naik kereta tanpa langganan juga bisa, tapi mahal. Misal dari wageningen ke amsterdam satu arah 15 euro, bolak balik 30 euro.

Kalau ditotal, untuk student, biaya hidup sekitar 800 euro. Biasanya beasiswa ngasih minimal 920, karena ada peraturan dari pemerintahnya, kalau mau kuliah di Belanda, perbulan harus punya support uang segitu. Beasiswa stuned dan lpdp ngasihnya lebih tinggi dari itu, jadi cukup kok. Ada juga beberapa yang bawa pasangan, tetap cukup juga.

Sekian semoga bermanfaat.

Salju di Belanda itu Hangat

When people see things as beautiful, ugliness is created.

Difficult and easy complement each other.

High and low oppose each other.

Warm and cold define each other.

Lao Tzu, Tao Te Ching 2

Salah satu alasan aku ingin ke luar negri, terutama ke Eropa adalah karena aku ingin merasakan salju. Sayangnya winter pertama aku di Belanda, kutunggu-tunggu salju tidak datang juga. Ternyata memang katanya di Belanda jarang turun salju. Namun katanya juga, Belanda jauh lebih dingin dari negara yang biasa turun salju. Ekspektasi ku di negara empat musim bisa winter ootd pake jas atau coat yang elegan. Tapi ternyata tiap hari harus pake jaket gunung, jaket puff, atau jaket gede lainnya. Mungkin karena di Belanda anginnya besar sekali, jadi dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Bangun tidur belom mandi langsung futu futu
Bangun tidur belom mandi langsung futu futu
Salju di kampus

Akhirnya salju itu turun walaupun cuma sehari. Aku pun upload foto ke facebook as a katrok person should. Dan banyak yang bilang, pasti dingin banget, atau I should keep myself warm. Tapi guys sejujurnya yang aku rasakan. Salju itu hangat. Yap. Karena sehari atau dua hari sebelumnya, suhu ngedrop drastis bisa sampai minus 5 derajat. Mungkin untuk membeku kan awan supaya jadi salju. Kalau keluar rumah sehari sebelum turun salju pasti pusing karena dinginnya amat menyengat. Nah begitu saljunya turun, suhunya sudah meningkat lagi jadi awan yang membeku itu turun ke bumi jadi salju.

Salju itu bagai ilusi optik kehidupan. Kadang kita melihat suatu kondisi itu menyengsarakan padahal kondisi itu adalah jalan keluar dari kesengsaraan. Kita pun baru bisa merasakan hangat kalau kita sudah merasakan dingin. They define each other. As many other man made concepts, happiness too, is relative. Sebagian orang bilang bisa bahagia kalau sudah mapan secara materi. Ada juga yang bilang dia bahagia kalau punya pasangan dan keturunan. Ada juga yang bilang bisa bahagia kalau sudah mencapai goal tertentu. However since it’s a relative concept, it will be hard to fulfil since it can change in the future. Karena manusia tidak akan pernah puas.

We don’t need to wait for the storm to realize the feeling of safety, warmness, and comfort of our house. Kita bisa bersyukur dari sekarang. Enjoy the life as it is and be grateful. And believe me, everything you need is everything you have.

Persiapan IELTS Tanpa Kursus

Sedikit backstory. Setelah lulus di bulan september, aku langsung fokus persiapan untuk kuliah di luar negri. Rencananya aku mau pergi tahun depannya, karena aku memang tidak berniat untuk kerja. Aku lebih memilih karir akademik dibanding industri. Karena LPDP ada di bulan februari, dan sebelum itu aku pengen aku sudah harus diterima di universitas, aku harus ikut IELTS di bulan November. Jadi waktu persiapan kurang lebih dua bulan.

Hal pertama yang aku lakuin adalah meng-asses kemampuanku dengan ikut mocking tes IELTS. Tes tersebut adalah tes yang sama persis sama tes IELTS, tapi hanya tidak dapat sertifikat. Biasanya diselenggarakan di tempat-tempat les bahasa inggris. Kalau aku di ILP. Hasil dari tes tersebut ialah, pada skala 10, aku dapat reading 9.5, listening 8.5, writing 5. haha. Waktu itu aku bener-bener ga tau mau nulis apa soalnya.

Hasil assesment ku adalah, untuk soal reading, aku sepertinya sudah cukup bagus. Menurutku pun soal reading IELTS lebih gampang dari soal reading Ujian Nasional SMA. Untuk listening juga lumayan. Kelemahan aku ada di bagian mendengarkan instruksi untuk menuju arah lokasi suatu tempat. Aku suka pecah konsentrasi kalau ada instruksi step by step yang terlalu panjang. Terus saat dibilang kanan-kiri, aku juga suka bingung kanan-kiri dari sudut pandang aku atau kanan-kiri nya kertas ujian. Jadinya panik deh. Nah, untuk writing dan speaking ini, aku harus banyak latihan karena nilai ku jore. Kampus luar pun persyaratannya biasanya overall 7 dan di masing-masing section, tidak ada yang di bawah 6.

Dari hasil tersebut, aku pun menyusun strategi belajar. Aku download contoh soal IELTS untuk berlatih reading dan listening. Walaupun sudah bagus tetap harus berlatih biar tidak kecolongan. Kemudian aku banyak-banyak baca contoh jawaban writing supaya tau seperti apa yang bagus dan jadi terbiasa mengetahui panjang tulisan 250 kata itu segimana. Di test writing ada dua bagian, nulis deskripsi dan opini. Di bagian nulis deskripsi ini bisa dipelajari pola penulisannya dan kata-kata apa saja yang bisa dipakai. Aku sendiri sangat terbantu dengan website IELTS-Simon webnya simple dan contohnya banyak banget. Jangan lupa juga latihan real menulisnya ya. Minimal seminggu sekali. Untuk speaking, aku juga nonton contoh orang-orang tes speaking dari YouTube, terus aku jawab sendiri.

Alhamdulillah aku tes IELTS sukses dan mengantarkan ku kuliah di luar negri. Hasil nilai tesnya aku lupa berapa, udah 5 tahun yang lalu soalnya. Aku nulis ini sekarang supaya mungkin bisa membantu orang lain yang sedang berjuang.Karena sekarang aku juga lagi berusaha buat lulus tes TOPIK atau tes bahasa korea, supaya bisa lanjut studi di sana. Memang sih di sana kalau di kampus pake bahasa inggris, but it wouldn’t hurt at all untuk mempelajari bahasa lokal. Pengalaman pas aku di belanda ga bisa bahasa belanda itu ga enak. Berjarak dan awkward gitu sama temen-temen. Untung aku punya banyak temen yang dutch tapi keturunan indo juga jadi malah ngomong indo deh sama w.

Anyway I wish you all the luck you can get for the exam. Dan doain w juga ya buat tes TOPIK. Thank you.

How I got My Scholarship to Study Abroad part 2

Aku pernah baca di blog orang tentang hukum “delapan aplikasi”. Jadi misal kita apply beasiswa tapi gagal terus, tenang aja, karena aplikasi kita di beasiswa ke delapan pasti dapet. Teori yang aneh tapi cukup masuk akal karena semakin sering kita apply maka semakin terasah juga essay kita atau kemampuan menjawab pertanyaan interview.

Ada juga yang bilang kalau beasiswa itu untung-untungan. Karena banyak orang pintar yang gagal dapat beasiswa dan di sisi lain banyak orang yang biasa-biasa aja tapi menang beasiswa.

Bagiku sih mendapatkan beasiswa itu pastinya butuh usaha yang keras dari diri kita sendiri, tapi karena saingan kita banyak, ya kita harus terus bertawakal kepada Allah juga.

Terkait dengan hukum “delapan aplikasi”, funny enough, aku memang lolos beasiswa saat lagi apply beasiswa yang ke delapan, banyak banget ye, dan beberapa gagal karena kecerobohan aku. Memalukan. Jadi begini kronologisnya;

  1. ALFABET

Beasiswa ini adalah kerja sama suatu lembaga di Eropa, IPB, dan beberapa universitas di Uni Eropa. Peruntukkannya khusus untuk lulusan IPB yang mau mengambil master di universitas di Eropa tersebut. Waktu itu aku daftar buat ke Universitas Gottingen. Saat itu aku tidak datang saat wawancara karena sedang tidak enak badan dan besoknya akan tes LPDP. Jadi aku semacam mengundurkan diri. Ternyata aku masuk ke waiting list walaupun tidak ikut wawancara. Nyesel deh. Mungkin kalau aku datang wawancara aku bisa dapat beasiswa itu.

2. LPDP

Beasiswa incaran sejuta umat ini adalah target utama ku karena katanya tidak ada kuota. Asal kita memenuhi syarat dan hasil seleksi tahap 2 bagus maka kita akan dapat beasiswa tersebut. Aku sebenernya optimis kalau aku bakal diterima karena aku merasa interview, focus group discussion dan essay lancar-lancar saja. Dan aku sudah diterima di Glasgow University. Aku juga apply di bidang prioritas yaitu sains dan teknologi. Tapi ternyata aku gagal. Kita bisa minta score sheet kita, supaya tau kita kurang dimana. Score aku sekitar 145 dengan passing grade 150. Karena gagal ini, aku jadi panik. LPDP punya peraturan kita hanya bisa apply beasiswa ini 2x seumur hidup. Jadi aku mulai mencari-cari beasiswa lain. Aku ingin berangkat kuliah tahun itu juga.

3. StuNed

Aku tau beasiswa ini saat ngobrol-ngobrol pas LPDP. Banyak dari mereka yang mau ke Belanda. Padahal sebelumnya aku nggak melirik Belanda sama sekali. Aku jadi penasaran ada apa di Belanda? Dari situ aku menemukan StuNed, full scholarship dari pemerintah Belanda. Persyaratannya juga aku sudah punya semua kecuali unconditional LoA dari universitas di Belanda. Karena deadlinenya 2 minggu lagi, akupun brute force apply ke banyak universitas di Belanda. Tapi yang memberi LoA tercepat adalah Wageningen University, jadi aku apply StuNed ke situ. Universitas lain mengirim LoA baru setelah aku sudah mengumpulkan aplikasinya. Dan hasilnya adalah… gagal juga… aku hanya masuk waiting list. Aku tidak banyak berharap karena mengingat waiting list dari alfabetpun aku akhirnya tidak dapat.

4. Beasiswa Unggulan

Beasiswa ini adalah beasiswa dari Kemendikbud. Aku tau beasiswa ini dari ibu ku karena temannya adalah yang mengelola beasiswa ini. Beasiswa ini jarang diketahui dan katanya stipend tidak banyak. Untuk kuliah di Belanda misalnya, kira-kira uang saku sekitar 5 juta rupiah. Aku kira beasiswa ini seperti ada dan tiada ternyata aku baru liat email undangan wawancara pas aku udah lulus kuliah master. Email itu masuk spam atau memang kebanyakan email aku isinya spam.

5. Australian Awards Scholarship & New Zealand Scholarship

Kedua beasiswa ini mirip jadi aku gabung. Aku lupa apakah aku benar-benar sudah submit aplikasinya atau belum. Seingatku mereka ada essay yang aku bingung nulisnya bagaimana. Atau kalau tidak salah ada biaya saat daftar ke universitas. Dan it’s a bit inconvenient for me buat bayar-bayar. Pokoknya tidak ada rejection email jadi aku lupa apakah aku sudah benar-benar mendaftar.

7. Fulbright Amerika

Ini beasiswa buat ke Amerika. At this point, kirim-kirim lamaran beasiswa sudah jadi terbiasa banget. Fulbright juga tidak ada rejection email nya, tidak ada juga email bahwa dokumen aplikasi sudah diterima dengan baik. So, you know, this one also like antara ada dan tiada.

8. Ignacy L dari Polandia

Saat aku sudah hampir putus asa, aku ke EHEF, dan aku dapat info kalau ada beasiswa ini. Persyaratan nya juga aku sudah punya semua, tinggal bikin research proposal. Karena aku sudah mulai suka baca paper bioinformatik, jadi cukup cepat juga aku bikin backgorund dan method. Aplikasi nya aku antar langsung ke kedubes Polandia. Saat pulang naik kereta aku dapat telfon dari Nuffic Neso Indonesia yang bilang, aku dapat beasiswa StuNed karena ada yag mengundurkan diri. I was so happy. Aku langsung ngabarin orang tua dan temen-temen sesama pencari beasiswa. Sore itu stasiun Bogor benar-benar terlihat indah. Semburat cahaya oranye mengiringi langkah kaki ku yang ringan.

Untuk beasiswa Ignacy, aku juga lolos. Tapi karena beberapa pertimbangan aku lebih memilih StuNed. Pertimbangan itu antara lain; rangking WUR yang lebih tinggi, di Belanda banyak yang bisa bahasa inggris sementara di Polandia aku harus ikut program belajar bahasa Polish selama setahun, StuNed juga mengcover lebih banyak biaya dibanding Ignacy, karena di Ignacy kita harus menanggung tiket pesawat sendiri.

Sebelum berangkat ke Belanda, penerima beasiswa StuNed diharuskan mengikuti pelatihan bahasa dan budaya selama dua minggu di taal centrum di kedubes Belanda. Aku sih enjoy aja mengikuti prosesnya karena bisa sekalian dekat ke kedubes untuk mengurus visa dan segala macam.

Demikian lah perjalanan saya. Semoga bisa diambil hikmah. Kadang aku berpikir mungkin kalau aku tidak ngotot buru-buru, aku bisa dapat di universitas yang lebih bergengsi. Itu delapan atau lebih beasiswa aku lamar dalam kurun 4 bulan hoho. Tapi kalau selain StuNed belum tentu aku bisa dapet kesempatan buat cari pengalaman kerja di perusahaan bioteknologi di belanda.

Akhir kata, saat pelepasan awardee ke Belanda, koordinator StuNed bilang, “Jangan pernah berpikir kalian dapat beasiswa ini karena beruntung. No. You got it because YOU DESERVE IT.”

Tips Beasiswa Stuned

Setelah tiga tahun dari tulisan, How I got my scholarship to study abroad part I, akhirnya aku akan melanjutkan cerita bagaimana akau dapat beasiswa stuned. Mungkin karena sudah agak lama, teknis pendaftaran beasiswa stuned sudah agak berbeda, tapi aku juga sambil melihat persyaratan untuk tahun 2021 ini, supaya bisa menyesuaikan.

Syarat pendaftaran Stuned sebenarnya cukup simple: IPK minimal 3.00, IELTS minimal 6.5, dan sudah diterima di universitas di Belanda. Info lengkap bisa dilihat di websitenya.

Tapi itu merupakan syarat minimal dan ada ribuan orang pendaftar dengan kualifikasi seperti itu. Sementara yang diterima mungkin dibawah 100 orang. Jadi kita harus punya edge, atau mempertajam aplikasi kita di beberapa sisi.

Sebenarnya caranya cukup mudah untuk memperbesar peluang kita mendapatkan beasiswa. Kita baca aja syarat “sunah” atau syarat yang gak wajib tapi prefered. Waktu tahun saya dulu ada program studi yang diutamakan yaitu pertanian, hukum, pengaturan air dll. Jadi pada saat itu walaupun saya memilih bioinformatik yang tidak termasuk jurusan yang diutamakan, di motivation letter, saya tulis ilmu bioinformatik yang saya dapat akan diterapkan di bidang pertanian, penelitian saya pun akan menjurus ke bidang pertanian. Tapi tahun ini agak berbeda. Tidak ada preferensi jurusan tapi ada preferensi universitas yang menyelenggarakan co-funding. Jadi co-funding adalah skema beasiswa dimana pembayaran ditanggung bersama. Dalam hal ini berarti funding studi kita berasal dari STUNED dan universitas tersebut. Bisa dicek disini

Preferensi lain yang akan diberikan kalau kita sendiri yang mengajukan untuk co-funding. Misal kita menanggung biaya pesawat sendiri atau kita menanggung beberapa persen dari biaya kuliah kita. Aku sendiri tidak memilih jalur ini karena masih fresh grad, belum punya duit dan tidak mau meyusahkan orang tua. Tapi kalau kamu mampu atau orang tua bersedia untuk menanggung biaya kuliah, boleh banget dicoba, supaya kemungkinan diterima lebih besar. Beberapa orang yang aku kenal ada yang menyertakan co-funding dan diterima. Dan biasanya kalau kita keterima kerja di Belanda mudah untuk balik modal.

Bagian lain yang bisa kita maksimalkan adalah motivation letter kita. Tips aku dalam menulis motivation letter, sebaiknya kalian mengenal penyelenggara beasiswa dan profil alumni-alumninya. Kalau bisa dapet contoh motivation letter dari awardee beasiswa tersebut lebih bagus. Tapi gak mudah juga. Kenapa harus mengenal? Supaya kita bisa menyesuaikan isi essay kita. Misal kalau LPDP pasti yang diharapkan kita nasionalis dan kita balik lagi ke Indonesia, jadi isi rencana setelah lulus gak mungkin dong kerja di luar negri. Nah kalau STUNED, karena dia merupakan kerjasama bilateral Indonesia Belanda untuk memajukan sumber daya manusia di Indonesia, menurutku kita harus membuktikan kalau kita pantas jadi bagian dari kerja sama tersebut.

Biasanya kita dikasih prompt atau pertanyaan yang harus kita jawab di motivation letter tersebut, akan aku bahas satu-persatu ya apa yang aku tulis di motivation letter ku;

  1. The reason why you apply for the chosen program 

Di sini lumayan straightforward. Kalau aku nulis karena aku tertarik aja sama bioinformatik karena dia bisa merevolusi healthcare, pertanian dll. Aku juga suka ngoding dan aku merasa ngoding dengan problem bioinformatics itu sangat menantang. Aku juga lumayan banyak meriksa essay teman-teman dan kenalanku, dan aku lihat mereka banyak fokus memilih program studi karena “Indonesia membutuhkan” tanpa benar-benar menjelaskan alasan pribadi mereka. Padahal di sini pemberi beasiswa juga ingin melihat seberapa tertarik kamu dengan jurusan tersebut dan seberapa termotivasikah kamu.

Kamu bisa menunjukkan ketertarikan kamu dengan misal kamu pernah volunteer, internship atau kerja di bidang tersebut. Bisa juga kamu pernah ikut lomba dan menang.

2. Your professional goals and how you intend to apply your study to Indonesian development 

Aku menulis kalau aku ingin jadi dosen dan peneliti. Menurutku di sini yang penting rencana kalian feasible atau masuk akal. Tulis rencana praktikal kalian. Jangan hanya menulis, ingin memajukan Indonesia atau ingin berkontribusi di suatu bidang. Tulis langkah praktis misal ingin jadi pengacara, ingin punya start up, ingin jadi dosen. Dan pastikan kalau itu tidak terlalu far fetched. Kalau untuk yang sudah punya pengalaman kerja, bisa saja menulis jenjang karir yang diharapkan setelah lulus S2 dan bagaimana karir mu itu berpengaruh terhadap perkembangan Indonesia.

Intinya adalah self reflect and do your research!

3. And, in general, what makes you the best candidate for this scholarship

Waktu aku apply dulu tidak ada pertanyaan ini tapi ini pertanyaan yang banyak ditanyakan saat melamar kerja. Dan kalau aku ditanya ini jawabannya mungkin, saya bertanggung jawab dibuktikan dengan walaupun saya dihadapi kesulitan saat S1 saya tetap bisa mempertahankan IPK yang baik, saya juga well prepared untuk menghadapi perkuliahan S2 karena saya sudah riset dan belajar bahasa inggris dsb. Mungkin juga bisa dipertegas lagi komitmen kita.

Sebagai tambahan, tapi saya tidak tau apakah ini berpengaruh atau tidak. Saya juga melampirkan surat rekomendasi dari dosen. Saya juga menyelipkan poster produk pkm saya untuk memperlihatkan kalau saya punya jiwa entrepreuneurship.

Mungkin segitu saja tips dari saya. Please take it with a grain of salt. Karena saya hanyalah awardee bukan yang menyeleksi jadi tidak tau pasti juga. Kalau mau bertanya, silakan tulis di kolom komentar. Best of luck!

Reparenting

Reparenting adalah teknik terapi di bidang psikiatri yang dipelopori oleh Jaqui Lee Schiff pada tahun 1960. Teknik reparenting dilandasi asumsi bahwa kebanyakan penyakit mental, seperti Schizophrenia dan bipolar disorder, disebabkan oleh trauma masa kecil. Terapis akan berperan sebagai orang tua untuk mengakses inner child kita agar kita bisa mengisi kekosongan dalam diri kita yang tidak terpenuhi saat kita masih kecil. Ide tersebut agak kontroversial dan riset tidak menunjukan keefektifannya.

Namun belakangan, nama reparenting kembali mencuat namun dengan teknis yang berbeda. Di buku “The Emotionally Absent Mother” (Cori, 2017), Jasmin L. Cori menggunakan teknik reparenting untuk menyembuhkan luka masa kecil kita. Ia mengawali dengan menjelaskan cara-cara untuk mengenali trauma masa kecil kita atau apa yang hilang dari masa kecil kita, kemudian kita menghubungkan dengan keadaan atau sejarah ibu kita di masa itu. Setelah kita mengenalinya, kita diajarkan untuk mengisi kehampaan di hati dengan berempati ke ibu kita dan menjadi orangtua untuk diri kita sendiri (reparenting). Buku ini bagus kalau kamu merasa kamu punya luka masa kecil, tapi kalau kamu belum merasa pun di buku ini ada semacam tutorial cara mengenalinya.

“Menjadi orang tua untuk diri sendiri”

Trauma masa kecil tidak harus selalu dengan kekerasan fisik atau penganiayaan. Bisa juga dari keabsenan orang tua dalam hidup kita. Misal perasaan kita sering diabaikan oleh orang tua. Kita hanya dianggap sebagai ‘asset’ orang tua, walaupun kita adalah entiti yang berdiri sendiri. Kita harus selalu menuruti semua yang dikatakan orangtua walaupun mereka tidak konsisten.

Perlu diingat bahwa mengenali trauma bukan berarti kita memupuk kebencian terhadap orang tua kita. Tapi ini adalah bagian dari usaha kita untuk menyembuhkan mental kita. Bagiku sendiri, aku tau orang tua ku sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Aku sayang sama mereka sepenuhnya tanpa ada setitik pun rasa tidak suka. Bagian dari reparenting itu sendiri adalah berempati kepada orang tua, karena tidak ada manusia yang sempurna, bahkan kita sebagai anak bisa jadi adalah cobaan terberat untuk mereka.

Dari kecil aku selalu mikir tiap kali aku berbohong atau membangkang karena orang tua yang keras dan ketat, “nanti kalau aku jadi orang tua bakal begini begini ke anak aku. Supaya anak aku merasa disayang dan nggak memusuhi orang tua”. Sampai dewasa pun aku masih seperti itu, aku pengen ngajarin anak aku begini begitu supaya jadi anak yang bener dan jangan kaya aku. Tapi kenapa kita harus nunggu saat punya anak? Kenapa ngga kita jadi orang tua buat diri kita sendiri?

Aku suka kesel kalau ada orang yang marah-marah nyuruh aku sholat. Karena dulu ibu aku selalu nyuruh sholat sambil marah-marah. Bahkan ketika aku kelewat sholat karena capek beres-beres rumah, aku dimarahin abis-abisan. Padahal kelewat sholat karena ketiduran nggak apa-apa asal langsung sholat pas bangun. Beda pas di Belanda, kalau ada orang yang mengingatkan untuk sholat aku merasa senang karena pasti mereka juga ngasih tau tempat sholat.

Berdasarkan Hebb’s rule: Cells that fire together, wire together (Hebb, 1949), kalau ada dua atau lebih sistem yang terus dilakukan secara bersamaan, maka akan terjadi asosiasi antar dua sistem tersebut. Misal sistem pendengaran aku mendengar perintah sholat, karena dulu perintah itu selalu dibarengi dengan marah-marah maka yang timbul di perasaan aku adalah kesal dan defensif. Otak aku mengaitkan perintah sholat dengan judging behavior. Apalagi kalau diingetinnya dengan bilang “Udah jam segini masih belum sholat”, itu aku merasa dijudge abis sebagai orang yang kaga bener. Sementara sebenernya bisa kok perintah sholat dikaitkannya dengan caring behavior, seperti saat di Belanda. Aku merasa dipedulikan (taken care of) karena mereka tau sholat itu kewajiban dan berusaha menolong aku menunaikan kewajiban itu.

Aku berpikir, kalau aku punya anak gak akan aku nyuruh sholat sambil marah-marah. Aku akan ajarin ke anak kalau sholat itu bentuk rasa syukur kita ke Allah dan waktu kita untuk jadi vulnerable dan meminta sebanyak-banyaknya. Kalau anak aku malas sholat, akan aku ajak diskusi apa yang membuat dia malas, dan kita coba selesaikan bersama-sama. Tapi mungkin karena sekarang belum punya anak aku bisa mulai membenarkan mindset aku sendiri. Aku masih merasa kesel kalau disuruh sholat. Maka aku akan jadi orang tua yang aku inginkan. Aku akan mengajarkan diriku sendiri untuk beribadah sebagai kebutuhan pribadi dan lebih meningkatkan kedekatan aku kepada Allah. Aku akan berperan sebagai orang tua yang mendidik diri aku sendiri dengan giat menimba ilmu agama.

Begitupun dengan baca al-quran. Kegiatan menhafal al-quran dulu bagaikan latihan militer. Bahkan sampai sekarang aku kalau ditanya “kamu masih ngafalin quran ngga?”, fight or flight response aku langsung ketrigger dan rasanya pengen bilang “sa pamit mau pulang..”. Tapi sebagai orang tua dari diri aku sendiri aku akan bilang ke inner child aku, “It’s okay kalau kamu jadi kaya berdebar ketakutan. Ada aku di sini. Kita akan melakukan ini bersama-bersama. Tidak apa-apa pelan-pelan saja.”

Orang yang mempunyai childhood trauma cenderung punya self worth yang rendah. Mereka tidak menghargai diri mereka karena saat kecil mereka sering diabaikan kebutuhan psikis dan emotional jadi mereka merasa tidak berarti. Memisahkan inner child kita dengan diri kita yang sekarang dapat membantu memulihkan kepercayaan diri kita. Karena kita bukanlah luka yang ada pada diri kita. Dan hanya kita yang dapat menyembuhkan diri kita sendiri.

Sebenarnya aku cuma menjelaskan sedikit banget dari reparenting ini. Aku cuma menjelaskan pengertian dan kontekstualisasi nya pada diriku. Kalau kalian mau belajar lebih lanjut, tonton videonya Kati Morton di youtube di link di bawah ini. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr wb.

What is Reparenting in Therapy? | Kati Morton https://www.youtube.com/watch?v=_9NXOFO1LFs&ab_channel=KatiMorton

How to overcome Childhood Emotional Neglect | Kati Morton https://www.youtube.com/watch?v=HtDIFA5KhWo&ab_channel=KatiMorton

Cori, J. L. (2017). The Emotionally Absent Mother, Updated and Expanded Second Edition: How to Recognize and Heal the Invisible Effects of Childhood Emotional Neglect. The Experiment.

Hebb, D.O. (1949). The Organization of Behavior. New York: Wiley & Sons.

The Science of Waktu Indonesia Bagian Galau

Pernah nggak sih kalian bangun sampai jam 2 atau 3 malam terus kalian tiba-tiba… o ow.. memasuki waktu Indonesia bagian galau. Tiba-tiba jadi kepikiran hal memalukan yang kalian lakuin pas kelas 5 SD. Atau tiba-tiba kepikiran bahwa kalian udah hidup seperapat abad tapi kayak belum mencapai apapun. Jangankan itu, punya target aja nggak. Terus jadi mikir hidup itu sebenernya buat apa. Tiba-tiba nangis mengingat semua kegagalan kita dan kita jadi bertanya-tanya apakah masih ada harapan di dunia ini?

Padahal, kalau nggak jam segitu, kita jarang mikirin hal-hal tersebut. Walaupun kita gabut, ya paling kita main hape aja, nonton drakor.

Ternyata fenomena tersebut bisa dijelaskan oleh sains. Jadi otak manusia punya jam biologis. Pintu utamanya adalah reseptor di mata kita. Otak kita mendeteksi kontras warna biru dan oranye di langit. Di pagi hari, ketika mata hari terbit, langit berwarna biru, otak kita mengirim sinyal untuk memproduksi hormon kortisol, Hormon tersebut berfungsi untuk memicu detak jantung dan membuat kita awake dan aware. Kemudian di sore hari, langit berwarna oranye, otak kita mengirim sinyal untuk menurunkan kadar hormon kortisol, dan memproduksi hormon lain yang membiat kita rileks. Setelah kita rileks, kita jadi mudah tidur, supaya tubuh bisa beristirahat dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Demikianlah cara kerja jam biologis di otak kita. Namun, ketika kita tidak tidur di saat jam biologis kita menyuruh kita untuk tidur, otak kita punya mekanisme untuk “menghukum” badan kita. Hormon dopamin yang membuat kita bahagia, dihambat produksinya, sehingga kita jadi merasa ‘down’. Itulah alasannya kita jadi lebih sering berpikiran macem-macem dan jadi sedih.

Aku baca penelitian mengenai ini dari video youtube. Perasaan udah aku bookmark tapi hilang ternyata. Nanti kalau ketemu akan aku update post ini ya. Goodbye for now.

Habits I Picked Up from Living in The Netherlands

Tinggal selama empat tahun di Belanda, negara dengan kebudayaan yang jauh berbeda dari Indonesia, tentu saja mempengaruhi cara kita melihat dunia dan menjalani kehidupan ini. Kita jadi melihat sesuatu dengan sudut pandang baru karena hal tersebut masuk akal juga. Berikut adahal beberapa kebiasaan yang terbawa oleh ku bahkan sampai aku balik ke Indonesia.

Berdiri, jalan kaki naik tangga

Kalau di Indonesia, saat naik bis atau transjakarta, pasti orang berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat duduk. Tapi di Belanda, misal kita naik bis, agak kosong, tapi gak ada bangku sebelahan yang dua-duanya kosong, biasanya mereka mending berdiri. Kalau mereka dateng segrup pun mereka biasanya milih berdiri biar bisa ngobrol bareng temen-temennya. Ada juga trend di tech company buat punya standing desk, ini ga cuma ngetrend di Belanda doang sih, bahkan pas aku ke tech conference ada talk yang ngejelasin how sitting in office might kill you.

Aku belum pernah naik angkutan umum sih, pas pulang ke Indo. Tapi pas aku jalan-jalan sama keluarga di eropa, pas naik metro atau trem, keluarga aku langsung ngetag2 tempat duduk, padahal jarak deket, dan disitu aku nyadar bahwa my mindset had shifted karena dulu aku begitu.

Di Belanda juga orang selalu berusaha aktif dan olahraga dengan cara misal naik tangga. Di apartement, walaupun ada lift, tapi bule belanda banyak yang lebih milih naik turun tangga pake tangga walaupun naik ke lantai 27. Pas ada perpindahan kelas habis kuliah di lantai tiga ke lab di lantai lima juga, anak-anak pada berbondong-bondong naik tangga dan biasanya yang naik lift itu orang-orang asia. Di kantor ku malah lift cuma digunakan buat kalau bawa barang berat. Pas awal-awal co-worker ampe nanya, apakah kaki aku sakit jadi harus naik lift terus-terusan. Tangga di Belanda memang beda sih, stepnya nggak ketinggian supaya orang tidak mudah capek. Habis itu aku jadi selalu lebih memilihi naik tangga deh, sekalian olah raga.

Pas aku ke rumah orang tua pun. Biasanya dulu orang-orang termasuk aku selalu teriak dari bawah kalau minta tolong ambilin sesuatu dari atas. Tapi sekarang karena kalau aku dateng semua orang kumpul di bawah, jadi aku yang paling semangat naik tangga ke atas kalau dibutuhkan.

Tapi ada kebiasaan yang bule-bule coba tularkan tapi that’s a no from me. Biasanya kalau makan siang, mereka makan roti sambil jalan kaki ngiterin kompleks atau danau. Menyenangkan sih, tapi aku kalau makan harus duduk.

Bikin makanan simpel

“Lo tau gak, temen gw orang indo, makan nasi 3x sehari, rajin banget masak.” Kata temen gw, tidak menyadari bahwa itu adalah hal normal untuk orang indo. Mereka biasanya masak cuma buat makan malam. Pagi dan siang bisanya makan roti doang. Aku pun terbawa kebiasaan itu tapi lebih tepatnya karena aku ga bisa masak jadi aku seringnya masak pasta doang malem-malem atau goreng tempe doang. Atau aku lebih sering beli makanan ke orang Indonesia lain jadi makan nasi sekali sehari. Sisanya bikin oatmeal atau roti atau makan buah aja. Dan ternyata bikin makanan yang simpel kaya gitu bikin aku gak gampang ngantuk. Kalau makan nasi udah pasti ngantuk berat. Jadi kebiasaan itu kebawa aja. Anehnya berat badan aku malah naik, jadi mungkin itu lebih sehat.

Di Belanda mungkin gara-gara rempah atau sayur mahal, mereka jadi hemat pakai bahan tersebut di makanan mereka. Misal kalau kita ke restaurant, di menu ditulis ravioli with mushroom and tomato sauce, isinya ya bener-bener itu. Gak ditambah bumbu-bumbu lain. Aku juga jadi belajar masak yang rada bland tapi yang penting bernutrisi misal, brokoli kasih garem sama bawang putih bubuk, terus dimicrowave deh. Setelah nikah baru aku belajar masak beneran soalnya lebih worth it gitu kalo masak buat orang lain juga. Dan orang lain tersbut pasti bilang makanan yang kita masak enak. But I still love eating and cooking bland food.

Dua hal itu adalah hal yang aku pribadi merasa berubah. Ada yang bilang hidup di luar negri membuat kita lebih self aware dan aku setuju sama hal itu. Karena banyak mencoba hal baru kita jadi lebih mengenal diri kita sendiri. Sekian post kali ini wassalam.