A Goodbye

Hari itu akhirnya tiba. Hari dimana aku meninggalkan Belanda dan melepaskan residence permit ku. Saat itu aku memang sudah jenuh di Belanda. Aku nggak bahagia lagi. Satu-satunya plus tinggal di sana hanyalah uang. Tapi kesehatan mental tidak bisa dibeli dengan uang, jadi pulang merupakan keputusan terbaik.

Continue reading “A Goodbye”

Berlarut-larut mengingat kegagalan

Aku ingin banget PhD, tapi aku takut tulisan aku gak bagus. Aku juga takut nggak bisa berkomunikasi dengan pembimbing. Pas di Belanda, sempat ada periode dimana aku merasa aku ngga bisa bahasa Inggris. Orang-orang sering banget ngomong “I’m sorry what did you say?” ke aku.

Ada satu momen yang paling membekas. Aku lagi diskusi tentang tesis sama dosen dan asdos. Dosen aku ngga ngerti sama penjelasan aku. Terus aku ngejelasin dengan cara lain. Terus beliau bilang “I’m sorry, I’m really lost here. Asdos, do you understand?” Asdos bilang “no”. Saat itu aku merasa dipermalukan dan sedih. Air mata aku menggenang. Aku berusaha buat ngga ngedip biar air mata itu nggak jatuh. Kemudian aku keluar dan nangis deh. Aku sering keinget itu tiap kali aku muncul keinginan untuk PhD.

Itu adalah salah satu contoh perilaku avoidant menghindari suatu hal karena anxiety atau grogi karena alasan yang tidak jelas kebenarannya.

Selama ini, anxiety aku, aku kubur dalam-dalam aja. Karena solusinya gampang. Aku ngga usah PhD dan ngga usah milih untuk tinggal di luar negri aja. Tapi ternyata mengubur emosi itu adalah stress response yang nggak sehat dan bikin kita cepet tua.

Hubungan antara stress dan penuaan dini tersebut dijelaskan oleh Dr. Elizabeth Blackburn dan Dr. Elissa Epel, di bukunya yang berjudul The Telomere Effect: A revolutionary approach to living younger, healthier. Penelitian mereka mengenai telomere tersebut mendapatkan nobel prize. Dr Elizabeth adalah molecular biologist yang meneliti telomere di binatang kecil. Telomere adalah rangkaian dna yang berada di ujung-ujung kromosom.

Telomere adalah yang berwarna putih di kromosom yang bentuknya seperti huruf X

Dr. Elizabeth menemukan bahwa setiap kali sel membelah, telomere menjadi semakin pendek. Sehingga panjang telomere dapat menjadi acuan untuk menentukan umur sel. Dr. Elissa tertarik dengan telomere tersebut. Dia adalah psikolog yang menangani orang tua2 dari anak berpenyakit kronis. Ia melihat para orang tua tersebut terlihat lebih tua dari umurnya sehingga Ia ingin mengetahui apakah stress mempengaruhi umur biologis seseorang. Hasilnya ternyata benar.

Ketika panjang telomer habis, sel-sel dalam tubuh kita tidak dapat saling berkomunikasi dengan benar sehingga muncul berbagai masalah. Antara lain, sistem imun melemah, inflamasi, sakit jantung dan paru-paru.

Kabar baiknya, panjang telomere itu reversibel. Karena kita punya enzim telomerase. Berdasarkan eksperimen, enzim tersebut dihasilkan banyak saat meditasi. Selain itu perubahan psikologis seperti memiliki tujuan hidup juga menambah enzim telomerase.

Oke, itu bagian tentang telomere. Sekarang bagaimana hubungannya dengan mengubur emosi. “Sekarang, coba jangan pikirkan beruang kutub!” Pasti malah beruang kutub yang ada di otak kita. Ketika kita mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, kita akan memikirkan itu, terus perasaan kita jadi ngga enak, terus kita jadi merasa bersalah karena dan ngga enak karena kita ngga enak. Udahla stress dobel-dobel. Kesian telomere kamu.

Jadi, aku memutuskan untuk tidak mengubur perasaan dan aku akan menghadapinya. Caranya adalah 3R, terinspirasi dari youtube ADHD brain: how to deal with failure anxiety tapi aku sesuaiin aja.

Recognize

Sadari bahwa emang pengalaman gagal nempel lebih kenceng dibanding pengalaman baik. Penelitian[1] yang dilakukan oleh sejumlah ahli di Tel Aviv Medical Center dan Departemen Neurosurgery UCLA, menemukan bahwa ketika kita melakukan sesuatu yang berresiko, bagian otak yang aktif adalah hippocampus, bagian yang berhubungan dengan memori dan anxiety. Tapi ketika kita mengalami kemenangan atau kesuksesan otak bagian tersebut tidak aktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengalaman buruk cenderung lebih disimpan di memori dibanding pengalaman sukses.

Remember

Ketika kita sudah menyadari bahwa memori kita ada biasnya. Kita bisa coba lagi mengingat-ingat fakta sebenernya tanpa dipengaruhi emosi.

Contoh, pengalaman buruk yang selama ini aku ingat berulang-ulang adalah aku didebat sama dosen sampai nangis. Padahal kalau aku ingat-ingat lagi, besoknya dosen tersebut minta maaf. Terus beliau pun jadi pembimbing internship aku dan komunikasi kita abis itu baik-baik aja.

Reframe

Setelah mengumpulkan semua fakta-fakta, kita bisa mengubah sudut pandang kita. Kemudian kita dapat menyusun ulang narasi di memori kita.

Misal, kalau di kasus aku. Ceritanya aku ubah jadi begini. Saat itu, lagi summer di Belanda, dan mood aku paling jelek pas summer karena kurang tidur. Terus, aku ngerjain tesis dengan banyak tekanan. Dosen pembimbing pun punya tekanan sendiri. Ia bilang saat itu udah siang jadi dia ngantuk dan cranky. Jadilah kejadian clash tersebut yang tak terelakan. Tapi pada akhirnya, aku bisa menyelesaikan tesis aku. Kesulitan yang amat berat pada masa tesis, menjadikan internship aku, seperti jalan-jalan di taman. Mudah, santai dan healing. Mungkin juga sikap santai itu yang bikin aku ditawari kerja di sana. Jadi kesulitan itu secara tidak langsung merupakan alasan kesuksesan.

[1] Gazit, T., Gonen, T., Gurevitch, G. et al. The role of mPFC and MTL neurons in human choice under goal-conflict. Nat Commun 11, 3192 (2020). https://doi.org/10.1038/s41467-020-16908-z

Anxiety mungkin pertanda baik

Doa itu adalah doa yang paling sering aku ucapkan saat lari2 di antara safa dan marwah. Saking aku pengen banget bisa terbebas dari rasa gelisah. Rasanya mental breakdown mungkin leih ngga enak dibanding rasa sakit secara fisik. Sampai biasanya aku harus makan fire chicken noodle yang super pedes supaya rasa “sakit mental di dada” itu bisa teralihkan ke rasa sakit beneran di mulut karena kepedesan.

Tapi ternyata Allah menjawab doa aku dengan sakit beneran. Selama tiga minggu aku ngga bisa kemana-mana. Makan susah, ngomong susah, tidur pun susah. Tapi yang aku baru sadari belakangan ini, selama aku sakit, aku ngga pernah mengalami mental breakdown. Pikiran aku tentunya fokus ke gimana caranya biar aku bisa sembuh. Bukannya mikir yang macem-macem yang bisa bikin gelisah.

Dari situ aku mulai menyadari sesuatu. Anxiety itu mungkin tanda kalau sebenernya hidup kita beruntung.

Kita mikir aneh-aneh.. karena kita punya badan sehat jadi kepala bisa mikir.

Kita merasa terasingkan di tempat kerja, karena kita beruntung punya kerja.

Kita bisa nangis overthinking memikirkan hal ngga jelas… karena kehidupan kita jelas-jelas aja. Kita udah jelas masih punya keluarga, masih bisa makan, masih punya tempat bernaung dan lainnya.

Mindset itu yang akan aku pakai kalau aku lagi mulai anxious. Mungkin ini terdengar kaya toxic positivity, tapi terkadang emang pemikiran itu powerful banget untuk mengatur perasaan.

Tapi mungkin ini nggak berlaku untuk anxiety disorder atau yang anxiety nya itu memang penyakit. Kalau penyakit ya memang mungkin harus terapi dan kalau udah parah, minum obat. Atau kalau kita sudah mengenal trigger anxiety kita, kita bisa latihan sendiri dan belajar mengendalikannya.

Oke sekian.

Wassalamualaikum

How to take criticism without feeling offended

I just realised that people in general take a lot of offense on things that were not made to attack them or their humanity/personality. Sometimes criticisms are only for your actions and for your decisions, not your entirety.

Maybe things would be less offensive if we started taking ourselves out of the equation, acknowledging that we have errors in judgment and that there should be accountability for all our actions.

BUT it is important to understand that while we should be accountable and face consequences, Let’s not make our actions define our identities. Being accountable for our actions is admitting to doing them and if we are criticised, then we should be learning from the criticism, not turning it out to be wrongdoing against usor a way to silence our energies.

The negative energies that are thrown upon us can always be converted or avoided if need be, but our egos act like reflective shields that will strike back with just as much negativity that we receive and that doesn’t end the cycle of exhausting toxicity.

Kerja di Belanda (part 1): Background and curcol

Di sini aku mau ngasih konteks latar belakang, siapakah aku dan kisahku sampai bisa kerja di belanda. Karena prespektif aku di tulisan part2 nanti pasti dipengaruhi dari konteks ini. Di sini aku bukan mau pamer sombong tapi aku cuma mau share siapa tau bermanfaat. I write it in my blog because everyone who lands on this page must have deliberately and consciously clicked on a link to read this. So you’re here because you wanna be here. Duh kok jd galak hihi. Ngga kok..

Tldr: Best thing I never wished for~ uwu

Is it the best thing that ever happened to my life? Ngga juga. Tapi ini impian banyak orang, bahkan orang Belanda sendiri, dan aku ga pernah ngira aku bisa dapet kerja di Belanda makanya aku bilang I never wished karena aku ngga pernah ngarep, karena kayanya susah.

Waktu mudik ke Indonesia pas masih kuliah, aku langsung kambuh alergi debunya. Terus umi aku bilang “berarti kamu alergi Indonesia dan emang mesti nyari cara buat tinggal di Belanda” dan aku cuma ngebatin “yakali makk”. Pas aku balik lagi ke Belanda, aku ngobrol sama mbak2 bule Belanda di kereta. Dia lulusan Wageningen jurusan architecture tapi dia kerja di kantor pos Postnl. Aku tanya2 tentang kerjaannya dan dia bilang emang cari kerja di Belanda susah banget jangankan mau yang sesuai sama jurusan kita.

Terus aku mikir, IPK S2 aku ga bisa diandelin, kalo dibandingin kecerdasan anak belanda mah jauh banget. Apalagi kalau wawancara kerja, aku grogian dan orang belanda itu kalau ngomong mengintimidasi.

Setelah itu pas abis balik mudik dan nikah, alhamdulillah rezeki jadi banyak. Tepat sehari setelah aku nyampe di Wageningen aku sidang thesis dan setelahnya internship. Professor aku juga baik dan cekatan banget. Biasanya kan Professor itu ngga suka ngurusin administrasi tapi beliau malah yang ngedorong aku buat cepat nyelesein semua dokumen kontrak internship, dan aku ngga harus ngerevisi thesis.

Ohiya cerita aku dapet internship juga kaya keberuntungan banget. Jadi di program Bioinformatics, setelah tesis aku dapet pilihan; internship, group project, training nulis research paper, atau second thesis. Aku udah telat buat daftar ke semua program itu, jadi aku pilih internship.

Aku ngelamar ke 4 perusahaan dan cuma 1 yang keterima. Pas aku wawancara pertama, anehnya aku ngga grogi sama sekali. Aku malah cuma kaya ngobrol aja.

Terus aku dipanggil buat wawancara kedua buat wawancara sama calon supervisor. Dan lucunya aku udah kenal sama supervisor duluan pas ada acara di kampus. Jadi pas acara itu, aku kaya ada ngegerakkin buat dateng ke acara itu. Aku tertarik banget sama judulnya “computer science meets bioinformatics”. Oh that’s me. Tapi aku males dateng karena aku liat yang dateng cowo semua. Tapi karena aku tau salah satu pembicaranya itu dosen aku perempuan jadi aku akhirnya dateng dan ngobrol sama dia. Abis itu dia harus nyiapin presentasi kan, terus aku ngobrol sama orang lain. Sampai orang itu ngomong dia kerja di tempat aku akan internship itu. Terus aku bilang.. yes, aku mau internship di situ InsyaAllah. Terus dia bilang “oh are you adzkia?”. Yep. “Kayanya aku akan jadi supervisor kamu” dan saat itu aku lega banget karena aku belum tau aku lolos wawancara pertama apa ngga dan aku udah dapet bocoran.

Guys, sori kalau sejauh ini w agak lebay dan merasa beruntung ini itu. Karena w kuliah di luar negri cuy. Kalau ga lulus tepat waktu repot. Mesti ngurus perpanjang visa lagi sendiri, bayar spp sendiri 40juta perbulan.

Oke, pas internship aku juga ngerasa seneng. Proyek aku tuh seru. Belajar tentang paralel computing trus bisa ngeliat proses di lab nya. Temen sesama intern juga friendly dan dia punya basic di genetics dan statistics jadi bisa banyak nanya ke dia.

Saat itu aku dimasukin ke software development group dan mereka lagi cari pegawai baru. Aku diajak ikut-ikutan ngewawancarain orang-orang yang udah jauh lebih expert hihi. Sok iye.

Program yang aku bikin jadinya cepet jadi aku banyak liburannya haha. Terus aku ditawarin kerja deh. Serius aku bahagia banget.

Kemudian aku liburan ke Indonesia. Disitu aku merasa galau. Di Indonesia aku ngerasa tenang banget hidup sama suami aku. Sementara di Belanda aku hampir tiap hari mental breakdown. Entah kenapa di Belanda aku jadi sensitif. Kalau lagi seneng sih seneng tapi kalau ada orang ngomong nyakitin sedikit aja, langsung pengen nangis. Dan yang bikin lebih berat lagi, visa suami aku jadi nya nyusul jadi aku harus balik duluan ke Belanda.

Awal-awal kerja, aku sih fine2 aja. Sampai sekarang juga fine2 aja sih. Cuma makin kesini aku merasa makin bosen, makin ga kompeten, makin ga cocok. Tapi aku ga mau ga bersyukur.

Mungkin aku dibesarkan di lingkungan yang punya mindset perempuan itu cocoknya di rumah, jadi aku di kantor merasa ga cocok.

Mungkin memang aku ga nyambung sama orang-orangnya jadi aku merasa kesepian.

Aku pengennya sih pulang ke Indonesia. Tapi aku juga takut menyia-nyiakan kesempatan. I can’t stay but I can’t let go.

Setelah dua tahun kerja di Belanda, aku ingin merefleksikan apa aja untung rugi kerja di sini. Kalau mau tau.. cek postingan blog ku selanjutnya.

Kerja di Belanda (part 2): Plus minus nya

Setelah dua tahun kerja di Belanda, aku ingin merefleksikan apa aja untung rugi kerja di sini. Plus minus perbedaan kalau kerja di Indonesia dan Belanda:

1. Uang

Plus:

Ini jelas banget Belanda menang. Gaji expat, untuk perusahaan komersil, minimal 3300 euro atau sekitar 55 juta rupiah per bulan.

Banyak orang muslim belasteran indo di belanda yang pengen kerja di indo tapi ga jadi karena kalo ditransfer dari perusahaannya, terus pake gaji Indonesia, jadinya cuma 6 jutaan, sementara kalo kerja di Belanda gaji mereka 20 juta.

Minus:

Tapi emang pengeluarannya beda. Pajak penghasilan itu 30-40%, terus kontrak apartment 840 euro perbulan, asuransi kesehatan wajib 100 euro perbulan. Transport juga mahal, naik bis atau tram sekali jalan jarak dekat 2-4 euro (50rb), kereta 20 euro. Makanya orang belanda seneng naik sepeda. Murah dan sehat. Jadi gaji segitu rasanya biasa aja.

2. Perlindungan terhadap hak karyawan

Plus doang:

Di Belanda, kalau kita punya kontrak kerja, kita ga akan bisa diberhentikan sepihak kecuali kita melakukan sesuatu yang parah banget. Kita juga punya hak 30 hari cuti pertahun dan tetap dapat gaji. Ditambah cuti ADV, aku kurang tau itu cuti apa. Pokoknya kalau ditotal kita bisa cuti 2 bulan. Kalau sakit juga ga harus pake surat dokter karena penyakit itu dianggep privasi.

3. Rekan kerja

Plus:

Aku sering ngeliat berita kalau di negara2 eu semakin kesini semakin rasis dan Islamophobia. Tapi untung itu bukan yang aku rasain di tempat kerja aku. Karena aku kerja di perusahaan riset (bioteknologi), mereka highly educated dan udah sering ketemu orang asing, jadi mereka baik2 banget. Terutama di grup aku, kita semua beda kewarganegaraan jadi lebih pengertian satu sama lain. Dan kita bukan tipe perusahaan yang koar-koar diversity. Tapi secara natural aja kita kebentuk kaya gini. Mereka passionate di bidang mereka dan pinter2 banget.

Minus:

Tapi kalau ngobrol sehari2 aku ngerasa ga nyambung sama mereka. Orang bule yang highly educated itu biasanya hati-hati banget kalo ngomong. Mereka ga mau bikin kita tersinggung jadi obrolan tentang agama, relationship, dan private matters dihindari. Jadi yang diobrolin cuma cuaca dan kegiatan pas liburan. Aku ngerasa kita ngobrol bukan karena kita, dari hati, peduli sama orang lain, tapi lebih untuk pengisi waktu coffee break supaya ngga burn out aja.

Kalau dibandingin sama Indonesia jadi kaya orang indo kepo, orang sini shallow.

4. Culture kerja

Plus:

Di Belanda or at least di kantorku mereka sangat memperhatikan pemisahan antara kantor dengan rumah. Jadi aku ga pernah bawa kerjaan pulang kecuali emang pas work from home.

Mereka juga mengutamakan team work dalam bekerja. Jadi jarang ada orang toxic yang berusaha ngejatuhin kita. Semua orang sama-sama belajar dan saling tolong menolong.

Minus:

Di Quora aku pernah baca ada orang dari eastern europe yang bilang kerja di start up di belanda kaya kerja di Uni soviet. Wkwk. Mungkin itu extrim sih. Soalnya orang belanda break bareng2, makan siang bareng2, happy hour abis kerja bareng2. Kalau kita makan siang sendiri dianggap asosial. Belanda memang mungkin bangsa ekstrovert, sama kaya Indonesia.

Yang aku rasain juga sama sih. Sebagai introvert aku rada capek kerja di kantor dengan kultur ekstrovert gitu. Di tempat aku satu ruangan isinya 8 orang. Jujur aku ngga suka karena aku ngerasa cuma dengan duduk di meja kerja aja energi sosial aku kesedot. Pilihannya kalau mau pindah, ada ruangan yg isinya dua cowo, tapi aku ga mau karena salah satu dari mereka ada yang tiap hari senin libur jadi nanti cuma berdua di ruangan.

Kita ditaro di ruangan berdelapan dengan niatan dari manajemen supaya ada interaksi antara lab people, bioinformatician, statistics people dan software people, sehingga memercikkan inovasi dan ide cemerlang. Tapi tetep aja orang kalau kerja ya masing-masing, kadang pake headset. Dan kalo ada orang dateng dari grup lain yg ngobrol dan ga ada hubungannya sama kita, jadi malah berisik.

Setiap jam 10 dan 16 ada coffee break. Satu perusahaan ngumpul di kantin atau balkon. Aku jarang ikut karena energi sosial aku abis. Jadi aku ke attic tempat aku sholat biasanya tidur2an atau video call ke rumah. Jam 12 ada istirahat makan siang, aku biasa pulang ke rumah atau janjian sama suami makan dimana gitu. Hal ini bikin aku merasa ga fit in dengan kultur kantor.

…..

Selain pertimbangan di atas, ada juga faktor x, yang g datang dari perkerjaan tapi berpengaruh ke kualitas hidup, dan jadi pertimbangan apakah aku mau pulang ke Indonesia atau enggak.

1. Lingkungan dan transportasi

Pluus:

Mungkin ini yang aku akan merasa kehilangan kalo pulang ke Indonesia. Ke kantor aku bisa naik sepeda udaranya segar, pemandangannya bagus. Tiap minggu harus ke luar kota ngga masalah karena keretanya enak. Sistem transportasinya rapih dan bersih.

2. Kemudahan buat travelling

Plus:

Naik kereta 3 jam udah nyampe prancis, swiss, jerman. Sejam naik pesawat nyampe ke spanyol, italy, yunani dll. Kalau mau pergi haji pun ga pake kuota. Jadi daftar tahun itu, berangkat tahun itu juga.

3. Makanan

Minus:

Nah ini mungkin kekurangannya. Di Belanda ngga banyak warteg, restoran sunda ataupun padang. Jadi kalau mau makan harus masak sendiri.

Plus:

Tapi positif nya kita InsyaAllah pulang-pulang dari belanda langsung jago masak.

4. Cuaca atau iklim

Plus:

Salju~~ aku cinta banget sama musim dingin kalau lagi turun salju. Pemandangannya kaya narnia. Udah gitu ngga dingin. Di belanda, justru pas salju turun itu agak anget udaranya, soalnya hari sebelum turun salju pasti dinginnya menusuk minta ampun.

Udaranya juga kering jadi ngga keringetan dan jalanan ngga becek. Jarang ada nyamuk.

Mendung terus. Banyak orang bule yang bilang di Belanda itu depressing, gray, ngga ada sinar matahari. Kalau aku sih suka banget, justru cuaca bagus menurut aku itu kalo mendung2 sebelum ujan.

Minus:

Daylight saving time alias pada bulan maret-oktober siangnya lama banget. Sholat subuh jam 4 pagi, sholat magrib jam 9 malam, isya jam 11. Sebagai night owl, it’s not okay for me.

Jadwal sholatnya pun terus berubah-ubah setiap hari. Ada sister Belanda yang pernah bilang “Indonesia itu kaya negara yg diciptain buat Muslim. Jadwal sholat nya selalu sama. Cuacanya juga enak”

Mungkin sekian plus minus kerja di Belanda. Apakah lebih banyak plus atau minus? Yang terpenting kita mensykuri dimana pun kita berada. Wassalamualaikum wrwb.

The Courage To Be Disliked: A Fresh Mindset to Start 2020

Buku ini adalah buku tentang filosofi hidup dan psikologi. Struktur penulisannya tidak biasa. Satu buku full isinya percakapan antara filsuf dan anak muda. Bahasanya ringan dan saya sendiri merasa anak muda itu menyuarakan pertanyaan-pertanyaan saya. Mungkin semua orang usia 20an bisa merasa relatable dengan anak muda itu. Filsuf itu menjawab dengan teori-teori Adler, psikolog Jerman. Di masanya, Adler biasa menyampaikan teori-teorinya dengan menjawab pertanyaan orang-orang di bar. Jadi, mungkin itu yang menginspirasi buku ini untuk mempunyai bentukan tanya jawab.

Saya baca buku ini pas liburan tahun baru jadi waktu yang pas banget buat starting fresh, ini adalah poin2 yang mengena di aku:

 

1. Deny the trauma and set a goal

What hooked me up from the beginning of this book is the talk about trauma. The youth asked about his friend who is isolating himself from the world because he was bullied and his parents are scary. He felt worthless, ugly and couldn’t find a job. I was hooked because sometimes I felt like that too and I just want to stay at home. Having a job is kind of too much responsibility for me. Everyday I felt like dragging myself and by the end of the day I had a mental breakdown. It’s not healthy and I’m not happy. I relate to him also because I always blame my childhood trauma as the cause of my anxiety at work. I thought I couldn’t have a normal interaction with my coworkers because I was raised as a conservative yes-man. I was so afraid to have a different opinion because my mom always got so angry at me whenever I said something that she didn’t like. One second she could hype me up, and the next second she broke me down. So I became a people pleaser and sometimes even a snake.

So then, I read this part;

If we focus only on past causes and try to explain things solely through cause and effect, we end up with “determinism.” Because what this says is that our present and our future have already been decided by past occurrences, and are unalterable.

So in Adlerian psychology, we do not think about past “causes” but rather about present “goals.”

Your friend is insecure, so he can’t go out. Think about it the other way around. He doesn’t want to go out, so he’s creating a state of anxiety.

Think about it this way. Your friend had the goal of not going out beforehand, and he’s been manufacturing a state of anxiety and fear as a means to achieve that goal. In Adlerian psychology, this is called “teleology.”

It hits me right in the feels. I realized, maybe I don’t have anxiety. I just don’t want to go to work. I just don’t want to chit chat with my coworkers. Maybe working in an office setting is not in line with my value system, eg: in islam, life between man and woman is separated. I always only want to talk in professional context but everyone is so laid back. Maybe I’m not happy at work because it doesn’t serve my goal. Boom. That’s it. I don’t even have a goal.

So I’ve never really wanted to be a software developer let alone working nine to five. But the offer was so good, I couldn’t deny. I was hired as a highly skilled migrant and got a beautiful paycheck. So I decided to give this career a shot. And then I thought “I stray far away from what I planned, but it ended up better than what I expected, financially.” So after that I just went through my years without a goal. That’s really a problem.

The reason why people tend to just blame on their trauma because it’s easy for them. It’s easier to say I can’t go to the job interview because I have anxiety, rather than to actually work on it and improve yourself. If really want it, you will find a way. If you don’t, you will find excuse.

So this year, I want to refine my goal and live my life according to that goal.

 

2. You fabricated your anger

I’m an emotional person but when I got angry I cried or sometimes I say something very hurtful. I thought it was in my gene because most people in my family is emotional. Since it was an internal instance, you can’t control it. But actually your anger or for me maybe my passive-aggressiveness can be controlled.

PHILOSOPHER: Don’t you see? In a word, anger is a tool that can be taken out as needed. It can be put away the moment the phone rings, and pulled out again after one hangs up. The mother isn’t yelling in anger she cannot control. She is simply using the anger to overpower her daughter with a loud voice and thereby assert her opinions.

YOUTH: So anger is a means to achieve a goal?
PHILOSOPHER: That is what teleology says.

So, now, whenever I feel emotional and want to do the passive-aggressive thing, I will ask myself, what is your goal. What do you want to achieve? If you are being passive-aggressive, would you deliver your message clearly?

 

3. Build horizontal relationship

I am the kind of person motivated by external validation. I could care less about money as long as I am “winning”. Sometimes I got disappointed when my work is not recognised. In Adlerian psychology, that was explained by a vertical relationship theory. We look at people either below or above us. We seek validation from those who are above us and we crave admiration from those who we think are below us. In Adlerian, we should build a horizontal relationship instead. Even in Islam, we are taught that all human are equal. The difference is only in their taqwa, and only Allah can see that.

YOUTH: For children, isn’t being praised by their parents the greatest joy of all? It’s because they want praise that they do their studies. It’s because they want praise that they learn to behave properly. That’s how it was for me when I was a child. How I craved praise from my parents! And even after becoming an adult, it’s been the same way. When your boss praises you, it feels good. That’s how it is for everyone. This has nothing to do with reason—it’s just instinctual emotion!
PHILOSOPHER: One wishes to be praised by someone. Or conversely, one decides to give praise to someone. This is proof that one is seeing all interpersonal relationships as “vertical relationships.” This holds true for you, too: It is because you are living in vertical relationships that you want to be praised. Adlerian psychology refutes all manner of vertical relationships and proposes that all interpersonal relationships be horizontal relationships. In a sense, this point may be regarded as the fundamental principle of Adlerian psychology.

 

4. You will feel belong to something if you put an effort into it

PHILOSOPHER: Now we will go back to where we started. All of us are searching for the sense of belonging, that “it’s okay to be here.” In Adlerian psychology, however, a sense of belonging is something that one can attain only by making an active commitment to the community of one’s own accord, and not simply by being here.

RumahQu aamiin

Bismillahirahmanirrahim,

Diriqu ingin punya rumah. Kata suami, rumah lebih murah kalau bangun sendiri. Ntah kenapa tiba-tiba hari ini semangat banget buat ngedesain rumah. Mungkin gara-gara abis nonton film The Intruder, terus w merasa, wih pewe banget istrinya begitu abis belanja, masuk rumah langsung dapur. Jadi w berpikiran untuk mendesain rumah yang sangat mengakomodir penghuninya yaitu w. Mungkin ini agak nggak realistis buat Indonesia, misal kalo kayu takut lumutan dan sebagainya tapi, biarin lah, namanya juga amatiran yang bermimpi, go big or go home. If you’re building it from scratch, might as well design it beautifully. Soal apakah bapak bimo mengapprove, atau pake arsitek, urusan nanti.

Bagian depan rumah nya simple aja yang penting modern. Ohiya, disclaimer, semua foto aku ambil dari pinterest. Kecuali Floorplan aku bikin di RoomSketcher.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ Team URBAN99 ( alumnus ITN-UGM-POLNES )  inspirasi sebuah fasad  Follow ☞  #Karyastudio99  work with the heart…

rumah syantiko1
Ruang tamu

Continue reading “RumahQu aamiin”

Things I wish I could ask to the person I just met

Sometimes I think I’m bad at being social. But then I think maybe I just don’t enjoy having a superficial conversation. People say, never ask about money, religion and politics to the person you’re not really close to. But the problem is they are all that I care about. Talking about things just for sake of talking dries me up. But I love having one to one conversation. I enjoy doing interviews. I wanted to be reporter growing up. I just wish I could ask anything to the person without offending them or without being afraid they could think I’m crazy. Here are the questions I wish I could ask;

Continue reading “Things I wish I could ask to the person I just met”