How I handle my FOBO

FOBO atau fear of better option adalah masalah ketika kita tidak bisa mengambil keputusan karena kita takut bahwa sebenarnya ada pilihan yang lebih baik daripada keputusan yang akan kita ambil.

Contohnya kalau mau beli suatu barang kita mikir lama banget, sampai kita capek sendiri. Contoh lain kita ada tawaran pekerjaan tapi mengharuskan kita relokasi jadi kita tidak fleksibel ketika ada kesempatan kerja lain yang datang, karena kita masih berharap akan mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Memiliki banyak pertimbangan itu baik namun FOBO ini kadang membuat kita capek mental. Terkadang kita sudah melakukan analisis SWOT, plus-minus, tapi tetap saja kepikiran mungkin ada hal yang terlewat.

FOBO ini bagian dari naluri bertahan hidup kita, jadi dia ada manfaatnya. Tetapi ketika dia sepertinya sudah mengambil alih ruang di pikiran kota, sebaiknya kita harus bisa mengaturnya.

Setelah melalui berbagai pengalaman FOBO, akhirnya aku menemukan cara untuk memanage nya yaitu dengan berserah diri kepada Allah. Manusia memang bisa mengusahakan untuk mendapat hal yang baik bagi dirinya yaitu dengan melakukan berbagai pertimbangan, tapi rizqi tetap dari Allah.

Misal ketika beli properti, berdasarkan riset, kita tau harga itu wajar dan malah murah. Dan kita memang butuh. Tapi kita takut sebenarnya ada properti lain yang lebih murah. Ya sudah, berarti kalau memang ada yg lebih murah dan kita terlanjur beli, memang itu belum rezeki kita.

Pergi Haji dari Belanda

So, I was just scrolling Twitter, when I found a tweet about going on a Hajj when doing a PhD. Tweet tersebut dilike oleh cukup banyak orang yang berarti alhamdulillah ternyata anak twitter pun banyak yang bercita-cita intuk pergi haji. Masya Allah.

Karena ada momentumnya, aku ingin berbagi info tentang pergi haji dari Belanda, semoga bisa menjadi tambahan informasi bagi kawan-kawan yang sedang mencari-cari.

Syarat agar bisa daftar Haji di Belanda adalah:

1. Residence permit

Biasanya orang asing yang punya residence permit adalah mahasiswa, orang yang kerja di Belanda. Jadi kalau kita berkunjung sebagai turis dan hanya punya visa schengen, tidak bisa.

2. Keterangan mahram

Ini dibuktikan dgn surat dari gementee/balai kota. Atau dengan keterangan di passport perempuan. Bisa diurus di KBRI Den Haag gratis. Ini wajib agar bisa dapat visa haji.

3. Syarat administrasi lain-lain seperti passport, pass foto, vaksin meningitis dll.

Biaya nya bermacam-macam. Kalau saya, pakai travel Diwan, sekitar 5500 euro tahun 2019. Pembimbing nya ada orang Indonesia dari Masjid Euromuslim Amsterdam. Di rombongan juga cukup banya orang Indonesia.

Bagaimana meluangkan waktu untuk pergi Haji, selama kurang lebih sebulan? Perusahaan di Belanda cuti tahunan kira-kira 1.5 bulan. So, it’s not a problem buat yg kerja. Buat yg kuliah pun, bisa saja. Tahun 2017-2019 Haji bertepatan dengan summer break yaitu bulan Agustus. Teman-temanku pun banyak yg begitu lulus S2 bulan juli, pergi haji bulan agustus, baru abis itu balik ke Indonesia.

Segini dulu, kalau ada pertanyaan langsung komentar saja. Wassalamualaikum wr wb

Peraturan BPJS Tidak Masuk Akal

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengumumkan kartu BPJS Kesehatan akan menjadi syarat jual beli tanah mulai 1 maret 2022. Hal ini berdasarkan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2022, untuk optimalisasi JKN.

Peraturan tersebut bisa dibilang tidak masuk akal karena jual beli tanah tidak ada hubungannya dengan asuransi kesehatan. Jika pemerintah sebegitu susahnya memaksa rakyat untuk berpartisipasi di BPJS, mungkin pemerintah harus introspeksi. Banyak yang  tidak ikut BPJS karena tidak sesuai syariah, pelayanan kurang bagus, atau bahkan memang tidak mampu bayar iuran.

Kalangan pro-pemerintah berpendapat bahwa kita harus melihat negara Singapura atau Eropa untuk asuransi kesehatan sosial. Di sana, asuransi adalah kewajiban dan mahal tapi tidak ada yang protes.

Perbandingan tersebut sungguh tidak apple to apple. Basis kebutuhan hidup sudah pasti terpenuhi, misal di Belanda, pengangguran saja dapat santunan 1000 euro atau 17 juta rupiah perbulan, jadi bayar iuran tidak masalah. Pelayanan publik pun cenderung bagus tanpa membeda-bedakan kelas sosial. Yang paling penting tingkat korupsi di sana sangat rendah jadi masyarakat percaya pada pemerintah untuk urusan pengelolaan uang untuk kesehatan.

Dimuat di Radar Bogor

JHT = JaHaT

JHT = Jahat

Kebijakan baru JHT, yang hanya boleh diambil setelah umur 56 tahun, menuai banyak kontraversi. Menaker menilai JHT atau Jaminan Hari Tua harus dikembalikan ke esensinya yaitu untuk menjamin kehidupan ketika sudah tua dan tidak bisa bekerja. Namun masyarakat menolak dengan berbagai alasan semisal bagaimana kalau diPHK, kalau pensiun dini, atau meninggal sebelum 56 tahun.

Pada dasarnya penolakan tersebut adalah karena ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Saya sendiri ketika melihat slip gaji dipotong JHT, merasa tidak terima, walaupun tahu, itu nantinya untuk saya juga. Saya merasa lebih baik uang gaji saya, saya ambil penuh dan saya tabung untuk beli tanah atau modal usaha atau investasi mudharabah. Saya meragukan apakah pemerintah mampu menyimpan dan mengelola uang saya dengan baik. Walaupun uang yang diterima dari JHT akan menyesuaikan dengan inflasi, tapi bagaimana kalau nanti nilai rupiah crash atau krisis moneter? Dan apakah pengelolaan uang kita halal dan sesuai syariah?

Jaminan hari tua memang sangat diperlukan dan wajib diurus oleh pemerintah. Namun masih banyak yang harus dibenahi dari sistem yang sekarang. Pemerintah harus berubah secara revolusioner agar dipercaya masyarakat.

Only Know You Want It When You Let it Go

Kehidupan saat corona ternyata bisa membuat bosan juga bahkan untuk seorang introvert sepertiku. Rencana awalku saat pulang ke Indonesia adalah untuk “healing”, kerja jadi dosen yang santai, lalu mungkin kalau aku mau phd atau suami keterima kerja di luar negri, kita bakal pindah ke luar. Tapi ternyata corona berkata lain. Aku memutuskan lebih baik ngga kerja dulu, dan fokus jadi IRT atau istri rumah tangga (karena belum punya anak). Lalu akupun bosan.

Terus awal tahun 2021 teman yang di Belgia ngasih tau ada lowongan phd di kampusnya, jadi aku kirim cv aja langsung dan wawancara. Aku sudah melewati dua tahap wawancara tapi tidak diterima padahal di tahap kedua itu tinggal dua kandidat. It’s okay. Saat itu aku memang tidak kebayang cara ke luar negri saat masih lockdown gimana.

Walaupun saat itu aku ditolak, tapi setidaknya jadi muncul motivasi dan tingkat kepercayaan diriku meningkat. Padahal dulu trauma banget pas master thesis. Sama sekali merasa tidak kompeten, merasa gak bisa bahasa inggris, gak bisa ngoding, ga ngerti biologi. Tapi alhamdulillah, waktu bisa menyembuhkan itu.

Terus aku mikir apa aku ngulang S2 aja ya di bidang cognitive science atau biologi. Toh aku seneng belajar dan kalau dapat beasiswa juga kan jadi sama aja kaya digaji buat belajar. Terus aku coba mau apply ke korea, tapi ternyata dokumen persyaratan nya sangat ribet, lalu ngga jadi.

Kemudian aku teringat hukum delapan aplikasi, “untuk mendapat beasiswa, maksimal di aplikasi kedelapan akan diterima”. Jadi yasudahlah aku akan coba-coba untuk mengisi kuota delapan aplikasi tersebut. Ternyata guys, langsung diterima di aplikasi kedua. Aku daftar di Universitas di Korea di Data Science Lab. Terus aku jadi mati gaya karena tidak menyangka akan diterima.

Terus aku jadi mikir-mikir, soalnya kita sebagai mahasiswa phd dikasih gaji atau beasiswa, tapi pesawat kita nanggung sendiri, test swab beberapa kali juga nanggung sendiri (pas itu masih sejuta), karantina di sana juga harus kita tanggung sendiri, pokonya banyak yang bikin tidak yakin. Terus ternyata aku harus ngirim ijazah master yang udah di apostille di lembaga hukum nasional. Pada kasus ku, berarti aku harus apostile ijazah aku ke Belanda. dan aku belum melakukannya padahal udah diingetin sama orang-orang buat legalisir ijazah sebelum pulang ke Indonesia. Tapi karena saat itu aku udah mental breakdown, jadi aku nganggep aku akan pensiun super dini, and I didn’t bother ngurus-ngurus begituan. So this sealed the deal that I couldn’t go there for phd.

So, aku akan tetap lanjut mencari phd atau maybe just doing some research in a university because it’s my heart calling. Wish me luck.

Pengalaman ke Psikiater di Bogor

Awal ceritanya adalah aku sakit dan ke dokter spesialis penyakit tersebut. Kata dokter tersebut, secara fisik, organ tubuh aku baik-baik aja dan kemungkinan besar penyakit tersebut datangnya dari pikiran. Jadi dokter itu merujuk aku ke psikiater di rumah sakit tersebut.

Aku bikin janji dari aplikasi rumah sakit jadi langsung dapet nomer urut antrian. Aku dapet nomer pertama dan saat aku sampai, ternyata agak telat, dokternya udah dateng jadi udah masuk pasien sebelum aku.

Saat aku dipanggil masuk, aku nyapa dokternya, tapi Ia agak mengabaikan dan masih sibuk ngetik di komputer, mungkin ngga dengar.

Kemudian Ia bertanya, apa masalah aku. Terus aku ceritakan agak panjang lebar. Setelah itu ia memberi beberapa saran salah satunya untuk melakukan Cognitive Behavioral Therapy, terapi untuk menguraikan dan membenarkan mindset kita. Bisa dilakukan sendiri dengan bantuan workbook atau bisa juga ke psikolog.

Lalu aku dikasih resep obat antidepresan. Untuk biaya, konsutasi sekitar 500 ribu, dan obat 700 ribu.

Sejujurnya hasil konsul itu nggak sesuai ekspektasi ku karena aku ngga mendapat insight baru. Mungkin memang keahlian psikiater ya memberi obat bukan memberi pencerahan. Psikiater yang aku temui itu memang basis utamanya di rumah sakit jiwa jadi mungkin spesialisasi nya memang untuk orang yang sudah parah.

Karena kurang puas, besoknya aku konsultasi ke umiku. Ia memang sering mengisi training untuk healing luka batin tapi aku ga pernah mau ikut. Soalnya menurut ku banyak luka batinku dari diomelin umi pas masih kecil. Umi juga sebenernya udah minta maaf dan nyuruh aku buat ke professional aja untuk ‘healing’. Nah terus pas aku tau professional doesn’t really work for me, might as well give a shot to curhat with my mom.

Pas curhat ke umi, lumayan banyak ganjelan-ganjelan batin yang terurai. Jadi lumayan lega juga. Umi semacam ngegabungin cognitive behavioral therapy sama konsep qadha dan qadar.

Sesuai yang disaranin aku juga terapi sendiri pakai workbook. Buku yang aku pakai adalah “How to Do the Work”, penulisnya Nicole LePrera. Pendekatannya holistic, jadi selain membenarkan pikiran, kita juga harus memperbaiki sistem syaraf kita dengan teknik pernapasan yg benar, micronutrient dll. Setiap selesai bab juga ada evaluasi dan kontekstualisasi pada diri kita, supaya kita benar-benar ‘do the work’ untuk healing.

Buku lain yang menurut aku bagus dan islami adalah bukunya Yasmin Mogahed yang berjudul “Reclaim your heart”. Buku ini bagus buat yang punya masalah attachment dan rejection sensitivity.

Aku ke psikiater empat bulan lalu. Alhamdulillah sejak sebulan lalu aku udah sembuh dari penyakit psikomatik tersebut. Gejala fisik udah ngga ada. But I believe healing is a lifelong process, jadi kita harus selalu berusaha untuk improve diri dan mental kita.

Menyoal Rape Culture

Dengan adanya media sosial di zaman ini, kasus pelecehan seksual semakin banyak bisa terungkap, karena korban dapat bersuara secara anonim dan mendapat banyak dukungan. Momentum ini sering dimanfaatkan oleh influencer dan aktivis feminisme untuk menyebarkan ide mereka.

Menurut mereka, kita harus selalu berpihak kepada korban, walaupun kita belum tahu pasti kebenarannya. Itu karena selama ini, ketika perempuan melaporkan kasus pelecehan seksual, mereka akan dikesampingkan, tidak dianggap serius, dan malah perempuan tersebut dipertanyakan apakah pakaiannya mengundang. Mereka menyebut itu sebagai bagian dari Rape culture.

Rape culture sendiri artinya adalah pemerkosaan sudah dianggap biasa di suatu masyarakat dan ketika terjadi pemerkosaan maka perempuan yang disalahkan. Untuk membuktikan kasus pemerkosaan tidak mudah. Biasanya tidak ada saksi, untuk bukti pun harus dilakukan visum seluruh tubuh yang biasanya susah dilakukan karena korban trauma, pelaku pun bisa bilang kalau hubungan itu atas dasar suka sama suka. Karena frustasi akan hal tersebut maka muncul solusi “gerakan berpihak kepada korban dari awal walau belum ada bukti”.

Solusi tersebut berbahaya. Penuduhan tanpa bukti dapat menjadi fitnah dan kalau tidak benar dapat menghancurkan nama dan hidup seseorang. Selain itu, solusi itu juga tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Akar permasalahannya adalah banyak laki-laki yang tidak bermoral, objektifikasi perempuan, dan peraturan hukum yang lemah. Untuk menyelesaikan nya dibutuhkan solusi komprehensif sebagai berikut;

Pertama, tanamkan akidah islam di setiap individu. Kita harus sadar kalau kita selalu diawasi Allah dan sadar pula akan tujuan hidup kita agar tidak macam-macam. Bagi laki-laki, jangankan untuk memperkosa, melihat perempuan ketika sudah muncul syahwat saja dilarang, berdua-duaan si tempat sepi pun dilarang. Bagi perempuan, wajib menutup aurat dan ketika keluar rumah dan wajib meminta izin wali atau suami agar dipastikan keamanannya.

Kedua, rangsangan eksternal harus dikurangi. Media saat ini terlalu banyak menjadikan wajah dan tubuh perempuan sebagai komoditas demi keuntungan materiil, maka media harus diatur. Masyarakat pun berperan untuk melangsungkan gaya hidup islami. Karena pergaulan bebas banyak menjadi penyebab dari kasus pemerkosaan.

Ketiga, hukuman untuk pemerkosa harus tegas dan membuat takut. Tidak dapat disangkal bahwa walaupun tindakan preventif sudah dilakukan, pasti akan ada saja yang menyimpang di masyarakat. Dalam hal itu maka hukuman harus dibuat menakutkan. Dalam islam, pemerkosa dan pezina dirajam atau dilempari batu di jalan umum sampai meninggal. Pelaksanaan hukuman secara publik tersebut dapat membuat orang takut untuk melakukan larangan Allah tersebut.

Ketika Teh Pahit Terasa Manis

Di kantor ku, di pantry nya ada berbagai macam teh dari berbagai sumber. Yang paling favorit dan cepet habis adalah teh jahe citrus. Suatu hari saat coffee break aku ngobrol sama teman saya yang dari Cina sambil minum teh tersebut.

“Aku gak suka teh jahe yang itu, manis banget.” kata dia

“Ya gak usah pake gula lah.” kataku.

“Wait.. did you put sugar on your tea?”

“Yes, I did”

“It’s already too sweet even without sugar.”

Terus aku teringat teman cina ku yang lain saat kuliah juga ada yang heran aku minum teh pake gula, karena menurut dia teh itu udah manis.

Orang Belanda lain di kantor ku juga kalau minum teh pakai gulanya sedikit banget.

Gula yang berlebihan memang punya banyak dampak buruk bagi tubuh. Dia bisa bikin kita mudah lapar, bikin ketagihan, dan bisa menghambat kerja otak. (Untuk sumber, lihat di akhir tulisan)

Ada juga salah satu senior researcher di kantor ku, dia umurnya sekitar 70 tahun. Tapi dia masih sangat fit. Dia tiap tahun ikut winter marathon lintas tiga negara. Dia gak pernah izin sakit, dia bahkan gak tau mekanisme izin sakit ke kantor gimana. Dia bilang dia gak pernah olahraga, paling cuma jalan kaki tiap lunch dan sepedahan kemana-mana. Mungkin rahasia dia bugar, karena dia nggak suka “gula”. Dalam arti dia nggak suka cake, minuman bergula, dll, tapi dia tetep makan apa aja, coklat pun, asalkan mahal, tetep dia makan, nggak terlalu freak lah. Pokoknya dia pernah bilang kalau gula itu kayak drugs, jadi mending gak usah coba-coba.

Terus aku coba lah mengurangi gula dalam diet aku. Dimulai dari gak minum yang manis-manis. Aku akuin minuman manis bisa jadi instan energy boost tapi dia kandungan gulanya banyak, apalagi kalau kita ngebiasain nyetok jus box atau soft drink di kulkas. Beuh. Aku pun mencoba untuk minum teh tanpa gula. Awalnya emang pahit, tapi setelah beberapa hari, beneran jadi manis loh.

Mungkin ada kekurangannya kalau palette taste kita berubah. Beberapa orang bilang masakan aku kurang asin dan kurang berasa. Wkwk. it’s ok

Bibliography…

Avena, Nicole M., Pedro Rada, and Bartley G. Hoebel. “Evidence for sugar addiction: behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake.” Neuroscience & Biobehavioral Reviews 32.1 (2008): 20-39.

Molteni, Raffaella, et al. “A high-fat, refined sugar diet reduces hippocampal brain-derived neurotrophic factor, neuronal plasticity, and learning.” Neuroscience 112.4 (2002): 803-814.

Shearrer, Grace E., et al. “The impact of sugar sweetened beverage intake on hunger and satiety in minority adolescents.” Appetite 97 (2016): 43-48.

Biaya hidup di Belanda

Halo, aku menulis ini karena suka ada yang nanya, untuk tinggal di Belanda berapa biaya hidupnya? Kira-kira beasiswa yang dia lamar mencukupi atau tidak? atau pekerjaan yang dilamar gajinya cukup atau tidak?

Di sini aku akan memberikan gambaran biaya hidup perbulan tersebut.

Apartemen atau Rumah (student=400e/Rp 6.8 juta, non-student=980e/Rp. 16.8 juta)

Biaya ini merupakan bagian terbesar yang akan kalian bayar. Di Belanda, setiap apartemen biasanya ada peruntukannya, misal untuk mahasiswa, non-mahasiswa, seorang, dua orang, pasangan beranak satu dst. Non mahasiswa tidak boleh tinggal di apartemen untuk mahasiswa. Pasangan pun tidak boleh tinggal di apartemen yang untuk satu orang.

Untuk mahasiswa, apartemen berkisar 270-600 euro. Biasanya apartemen yang dibawah 350 euro itu yang sharing kitchen dan bathroom. Kalau mau yang all in, biasanya di atas 420 euro.

Untuk non-student, one bedroom apartemen (1-2 orang) berkisar 600-1500 euro.

Biaya tersebut sudah termasuk air, gas, listrik, dan internet unlimited.

Biasanya untuk apartemen yang on the expensive side, bisa apply rent subsidy ke pemerintah. Kalau diterima nanti pemerintah ngasih duit beberapa persen dari rent kita buat ngebantu kita. Misal, dulu pas jadi student, rent aku 414e terus aku apply rent subsidy, dan dikasih 80e per bulan sama pemerintah.

Makan (200e/Rp. 3.5 juta)

Ini setiap orang berbeda-beda. Tapi rata-rata orang indo yang aku tanya, ngebudgetin 200 euro, dan mereka bilang 200e itu sudah sangat mencukupi.

Untuk gambaran, harga individualnya,

  1. Snack rata-rata harganya sama kaya di indo
  2. Buah. Apel, kiwi, pear, lebih murah di Belanda daripada di Indo. Buah tropis jelas jauh lebih mahal di belanda.
  3. Sayur. satu bongol selada, seiket pokchoy, bayam, masing-masing biasanya 1 euro.
  4. Beras. 5 liter harganya 5 euro.
  5. Meal. makanan chinese, india, indonesia yang ada di kantin biasanya 5-8 euro. Kalau di restoran (yang biasa aja bukan yg fancy), 7-15 euro per makanan.
  6. Rempah-rempah. Ini yang menurutku agak mahal. Bawang putih 2 biji harganya 1 euro. kencur 1 jari harganya 1 euro (17 ribu, mo nanges).

Belanja baju, sepatu, buku dll (~100e/Rp. 1.7 juta)

Ini sangat tergantung sama kamu sih gaes. Ini juga gabisa dibudget perbulan but it needs to be in the budget jadi ini angka kira-kira aja. Baju, sepatu, barang eletronik harganya cenderung sama. Malah untuk fast fashion (hnm, zara, bershka) di Belanda lebih banyak salenya. Untuk buku, mungkin lebih mahal daripada buku Indonesia. Buku buat kuliah biasanya sekitar 40-120 euro.

Transport (0-120e)

Karena biasanya di belanda, semua orang naik sepeda, biaya transport bisa jadi 0 perbulan. Kalau aku sendiri biasanya weekend suka ke luar kota jadi aku langganan kereta perbulan 30euro, bisa naik kereta sepuas hati hari sabtu dan minggu. Untuk bis biasanya 3-4 euro. Jadi perbulan buat jalan-jalan saat weekend kira-kira 80euro. Oh iya kalau naik kereta tanpa langganan juga bisa, tapi mahal. Misal dari wageningen ke amsterdam satu arah 15 euro, bolak balik 30 euro.

Kalau ditotal, untuk student, biaya hidup sekitar 800 euro. Biasanya beasiswa ngasih minimal 920, karena ada peraturan dari pemerintahnya, kalau mau kuliah di Belanda, perbulan harus punya support uang segitu. Beasiswa stuned dan lpdp ngasihnya lebih tinggi dari itu, jadi cukup kok. Ada juga beberapa yang bawa pasangan, tetap cukup juga.

Sekian semoga bermanfaat.

Salju di Belanda itu Hangat

When people see things as beautiful, ugliness is created.

Difficult and easy complement each other.

High and low oppose each other.

Warm and cold define each other.

Lao Tzu, Tao Te Ching 2

Salah satu alasan aku ingin ke luar negri, terutama ke Eropa adalah karena aku ingin merasakan salju. Sayangnya winter pertama aku di Belanda, kutunggu-tunggu salju tidak datang juga. Ternyata memang katanya di Belanda jarang turun salju. Namun katanya juga, Belanda jauh lebih dingin dari negara yang biasa turun salju. Ekspektasi ku di negara empat musim bisa winter ootd pake jas atau coat yang elegan. Tapi ternyata tiap hari harus pake jaket gunung, jaket puff, atau jaket gede lainnya. Mungkin karena di Belanda anginnya besar sekali, jadi dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Bangun tidur belom mandi langsung futu futu
Bangun tidur belom mandi langsung futu futu
Salju di kampus

Akhirnya salju itu turun walaupun cuma sehari. Aku pun upload foto ke facebook as a katrok person should. Dan banyak yang bilang, pasti dingin banget, atau I should keep myself warm. Tapi guys sejujurnya yang aku rasakan. Salju itu hangat. Yap. Karena sehari atau dua hari sebelumnya, suhu ngedrop drastis bisa sampai minus 5 derajat. Mungkin untuk membeku kan awan supaya jadi salju. Kalau keluar rumah sehari sebelum turun salju pasti pusing karena dinginnya amat menyengat. Nah begitu saljunya turun, suhunya sudah meningkat lagi jadi awan yang membeku itu turun ke bumi jadi salju.

Salju itu bagai ilusi optik kehidupan. Kadang kita melihat suatu kondisi itu menyengsarakan padahal kondisi itu adalah jalan keluar dari kesengsaraan. Kita pun baru bisa merasakan hangat kalau kita sudah merasakan dingin. They define each other. As many other man made concepts, happiness too, is relative. Sebagian orang bilang bisa bahagia kalau sudah mapan secara materi. Ada juga yang bilang dia bahagia kalau punya pasangan dan keturunan. Ada juga yang bilang bisa bahagia kalau sudah mencapai goal tertentu. However since it’s a relative concept, it will be hard to fulfil since it can change in the future. Karena manusia tidak akan pernah puas.

We don’t need to wait for the storm to realize the feeling of safety, warmness, and comfort of our house. Kita bisa bersyukur dari sekarang. Enjoy the life as it is and be grateful. And believe me, everything you need is everything you have.