Everything Changes After 25, The Science of Quarter Life Crisis

Waktu dulu sempat trending di Twitter tentang umur 25 harusnya sudah bisa ini itu. Harusnya sudah punya tabungan 100 juta, mulai KPR, mulai berkeluarga dan lain lain. Saat itu w mikirnya lewat umur 25, asalkan masih waras, tidur masih teratur then you are good. That’s an achievement. Karena di buku Educated, Tara Westover bilang, menurut professor psikologi, umur 25 adalah saat dimana banyak penyakit mental bermunculan.

Berdasarkan pengalaman pribadi w sendiri, di umur 25 mungkin paling banyak perubahan dalam hidup. Pada umur segitu w menikah, lulus kuliah S2, dan memulai pekerjaan baru. Jadi wajar kalau sewaktu-waktu kena mental breakdown. W pikir perubahan pada mental state w mungkin karena tinggal di luar negri so I became anxious about everything. Tapi engga juga karena selama w kuliah S2, w pede, happy and free spirit. Dan ternyata ada juga alasan internal alias biologis yang ilmiah di balik semua itu.

Seperti dilansir BBC.com, child psychologist Laverne Antrobus menyatakan kalau frontal lobe di otak kita baru fully developed saat umur 25 tahun. Frontal lobe adalah bagian otak yang berfungsi untuk berpikir logis, mengambil keputusan dan membuat rencana. Jadi biasanya kita mengalami “awakening”, atau ada mata batin yang terbuka, karena kita menilai hal di sekeliling kita secara berbeda.

Well in my case, ada beberapa pemikiran w yang w sadari kalau salah. Jadi walaupun terjadi “goncangan” di diri w, ada juga beberapa kebaikannya. W juga merasa lebih punya empati dan lebih sabar.

Wallahualam bishawab

https://www.bbc.com/news/magazine-24173194

https://www.inverse.com/article/33753-brain-changes-health-25-quarter-life-crisis-neurology

Mommy Issue

We all know and familiar with the term daddy issue. Kalau di Amerika biasanya daddy issue itu ditunjukan untuk orang yang punya preferensi untuk mencari pasangan yang jauh lebih tua karena mereka tidak tumbuh bersama sosok ayah di hidup mereka. Itu definisi populer atau versi urban dictionary, dan mungkin ada versi definisi ilmiah lainnya.

Tapi sebenarnya ada juga yang namanya mommy issue. Itu adalah keadaan psikologis dimana kita mencari approval dari sosok perempuan yang lebih dewasa, seperti profesor kita di kampus, manager kita di kantor, atau bahkan tetangga. Hal ini terjadi karena sosok ibu yang seharusnya menjadi tumpuan saat anak bertumbuh kembang, tidak bisa bisa menjadi safe space untuk anak tersebut. Misal, seorang ibu tidak peduli pada perasaan anaknya dan hanya peduli kalau anak tersebut berprestasi di sekolah. Hal itu membuat anak belajar kalau mereka hanya pantas disayangi hanya jika mereka punya pencapaian.

Ketika dewasa, jika anak itu bertemu dengan sosok yang punya kepribadian seperti ibunya, dia akan berusaha mencari approval dari sosok tersebut. Karena mereka familiar dengan perasaan bahagia saat mendapat approval tersebut. It feels like home to them. Hal ini tidak baik karena biasanya kita jadi lebih mementingkan apa yang sosok tersebut mau daripada apa yang kita inginkan*. Because we learned in our childhood that our feeling don’t matter, we don’t matter. We are just an extension of our parent. Jadi misal, ketika mendapat bos yang micromanage dan marah-marah terus, kita malah mengejar approval dari mereka. Di bawah sadar kita, kita merasa nyaman, walaupun kita tau itu situasi yang toxic untuk kita.

Kalau kita punya mommy issue, yang pertama harus dilakukan adalah menyadari dan menerima. Masa lalu kita adalah qadha dari Allah. Kita tidak bisa mengubah orang lain. Our parents want what’s best for us with all knowledge they have, so sometimes it’s not even their fault. Kita juga tidak bisa mengubah masa lalu,Tapi kita bisa mengubah diri kita dan masa depan kita walaupun itu sulit. Ketika kita menyadarinya, maka ketika kita dihadapkan dengan masalah tersebut, misal, kita merasa burnout di kerjaan karena kejar target and we feel that our voice is silenced, we have to realize that it was maybe our mommy issue in the working that causes this.

We have to realize that we are an adult individual, not just an extension of somebody. We are responsible for ourselves. We don’t need approval from others to be happy. It’s okay to have an opinion. We are capable of living our life as our true authentic self.

Wallahualam bishawab.

How I handle my FOBO

FOBO atau fear of better option adalah masalah ketika kita tidak bisa mengambil keputusan karena kita takut bahwa sebenarnya ada pilihan yang lebih baik daripada keputusan yang akan kita ambil.

Contohnya kalau mau beli suatu barang kita mikir lama banget, sampai kita capek sendiri. Contoh lain kita ada tawaran pekerjaan tapi mengharuskan kita relokasi jadi kita tidak fleksibel ketika ada kesempatan kerja lain yang datang, karena kita masih berharap akan mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Memiliki banyak pertimbangan itu baik namun FOBO ini kadang membuat kita capek mental. Terkadang kita sudah melakukan analisis SWOT, plus-minus, tapi tetap saja kepikiran mungkin ada hal yang terlewat.

FOBO ini bagian dari naluri bertahan hidup kita, jadi dia ada manfaatnya. Tetapi ketika dia sepertinya sudah mengambil alih ruang di pikiran kota, sebaiknya kita harus bisa mengaturnya.

Setelah melalui berbagai pengalaman FOBO, akhirnya aku menemukan cara untuk memanage nya yaitu dengan berserah diri kepada Allah. Manusia memang bisa mengusahakan untuk mendapat hal yang baik bagi dirinya yaitu dengan melakukan berbagai pertimbangan, tapi rizqi tetap dari Allah.

Misal ketika beli properti, berdasarkan riset, kita tau harga itu wajar dan malah murah. Dan kita memang butuh. Tapi kita takut sebenarnya ada properti lain yang lebih murah. Ya sudah, berarti kalau memang ada yg lebih murah dan kita terlanjur beli, memang itu belum rezeki kita.

Pergi Haji dari Belanda

So, I was just scrolling Twitter, when I found a tweet about going on a Hajj when doing a PhD. Tweet tersebut dilike oleh cukup banyak orang yang berarti alhamdulillah ternyata anak twitter pun banyak yang bercita-cita intuk pergi haji. Masya Allah.

Karena ada momentumnya, aku ingin berbagi info tentang pergi haji dari Belanda, semoga bisa menjadi tambahan informasi bagi kawan-kawan yang sedang mencari-cari.

Syarat agar bisa daftar Haji di Belanda adalah:

1. Residence permit

Biasanya orang asing yang punya residence permit adalah mahasiswa, orang yang kerja di Belanda. Jadi kalau kita berkunjung sebagai turis dan hanya punya visa schengen, tidak bisa.

2. Keterangan mahram

Ini dibuktikan dgn surat dari gementee/balai kota. Atau dengan keterangan di passport perempuan. Bisa diurus di KBRI Den Haag gratis. Ini wajib agar bisa dapat visa haji.

3. Syarat administrasi lain-lain seperti passport, pass foto, vaksin meningitis dll.

Biaya nya bermacam-macam. Kalau saya, pakai travel Diwan, sekitar 5500 euro tahun 2019. Pembimbing nya ada orang Indonesia dari Masjid Euromuslim Amsterdam. Di rombongan juga cukup banya orang Indonesia.

Bagaimana meluangkan waktu untuk pergi Haji, selama kurang lebih sebulan? Perusahaan di Belanda cuti tahunan kira-kira 1.5 bulan. So, it’s not a problem buat yg kerja. Buat yg kuliah pun, bisa saja. Tahun 2017-2019 Haji bertepatan dengan summer break yaitu bulan Agustus. Teman-temanku pun banyak yg begitu lulus S2 bulan juli, pergi haji bulan agustus, baru abis itu balik ke Indonesia.

Segini dulu, kalau ada pertanyaan langsung komentar saja. Wassalamualaikum wr wb

Peraturan BPJS Tidak Masuk Akal

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengumumkan kartu BPJS Kesehatan akan menjadi syarat jual beli tanah mulai 1 maret 2022. Hal ini berdasarkan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2022, untuk optimalisasi JKN.

Peraturan tersebut bisa dibilang tidak masuk akal karena jual beli tanah tidak ada hubungannya dengan asuransi kesehatan. Jika pemerintah sebegitu susahnya memaksa rakyat untuk berpartisipasi di BPJS, mungkin pemerintah harus introspeksi. Banyak yang  tidak ikut BPJS karena tidak sesuai syariah, pelayanan kurang bagus, atau bahkan memang tidak mampu bayar iuran.

Kalangan pro-pemerintah berpendapat bahwa kita harus melihat negara Singapura atau Eropa untuk asuransi kesehatan sosial. Di sana, asuransi adalah kewajiban dan mahal tapi tidak ada yang protes.

Perbandingan tersebut sungguh tidak apple to apple. Basis kebutuhan hidup sudah pasti terpenuhi, misal di Belanda, pengangguran saja dapat santunan 1000 euro atau 17 juta rupiah perbulan, jadi bayar iuran tidak masalah. Pelayanan publik pun cenderung bagus tanpa membeda-bedakan kelas sosial. Yang paling penting tingkat korupsi di sana sangat rendah jadi masyarakat percaya pada pemerintah untuk urusan pengelolaan uang untuk kesehatan.

Dimuat di Radar Bogor

JHT = JaHaT

JHT = Jahat

Kebijakan baru JHT, yang hanya boleh diambil setelah umur 56 tahun, menuai banyak kontraversi. Menaker menilai JHT atau Jaminan Hari Tua harus dikembalikan ke esensinya yaitu untuk menjamin kehidupan ketika sudah tua dan tidak bisa bekerja. Namun masyarakat menolak dengan berbagai alasan semisal bagaimana kalau diPHK, kalau pensiun dini, atau meninggal sebelum 56 tahun.

Pada dasarnya penolakan tersebut adalah karena ketidakpercayaan terhadap pemerintah. Saya sendiri ketika melihat slip gaji dipotong JHT, merasa tidak terima, walaupun tahu, itu nantinya untuk saya juga. Saya merasa lebih baik uang gaji saya, saya ambil penuh dan saya tabung untuk beli tanah atau modal usaha atau investasi mudharabah. Saya meragukan apakah pemerintah mampu menyimpan dan mengelola uang saya dengan baik. Walaupun uang yang diterima dari JHT akan menyesuaikan dengan inflasi, tapi bagaimana kalau nanti nilai rupiah crash atau krisis moneter? Dan apakah pengelolaan uang kita halal dan sesuai syariah?

Jaminan hari tua memang sangat diperlukan dan wajib diurus oleh pemerintah. Namun masih banyak yang harus dibenahi dari sistem yang sekarang. Pemerintah harus berubah secara revolusioner agar dipercaya masyarakat.

Only Know You Want It When You Let it Go

Kehidupan saat corona ternyata bisa membuat bosan juga bahkan untuk seorang introvert sepertiku. Rencana awalku saat pulang ke Indonesia adalah untuk “healing”, kerja jadi dosen yang santai, lalu mungkin kalau aku mau phd atau suami keterima kerja di luar negri, kita bakal pindah ke luar. Tapi ternyata corona berkata lain. Aku memutuskan lebih baik ngga kerja dulu, dan fokus jadi IRT atau istri rumah tangga (karena belum punya anak). Lalu akupun bosan.

Terus awal tahun 2021 teman yang di Belgia ngasih tau ada lowongan phd di kampusnya, jadi aku kirim cv aja langsung dan wawancara. Aku sudah melewati dua tahap wawancara tapi tidak diterima padahal di tahap kedua itu tinggal dua kandidat. It’s okay. Saat itu aku memang tidak kebayang cara ke luar negri saat masih lockdown gimana.

Walaupun saat itu aku ditolak, tapi setidaknya jadi muncul motivasi dan tingkat kepercayaan diriku meningkat. Padahal dulu trauma banget pas master thesis. Sama sekali merasa tidak kompeten, merasa gak bisa bahasa inggris, gak bisa ngoding, ga ngerti biologi. Tapi alhamdulillah, waktu bisa menyembuhkan itu.

Terus aku mikir apa aku ngulang S2 aja ya di bidang cognitive science atau biologi. Toh aku seneng belajar dan kalau dapat beasiswa juga kan jadi sama aja kaya digaji buat belajar. Terus aku coba mau apply ke korea, tapi ternyata dokumen persyaratan nya sangat ribet, lalu ngga jadi.

Kemudian aku teringat hukum delapan aplikasi, “untuk mendapat beasiswa, maksimal di aplikasi kedelapan akan diterima”. Jadi yasudahlah aku akan coba-coba untuk mengisi kuota delapan aplikasi tersebut. Ternyata guys, langsung diterima di aplikasi kedua. Aku daftar di Universitas di Korea di Data Science Lab. Terus aku jadi mati gaya karena tidak menyangka akan diterima.

Terus aku jadi mikir-mikir, soalnya kita sebagai mahasiswa phd dikasih gaji atau beasiswa, tapi pesawat kita nanggung sendiri, test swab beberapa kali juga nanggung sendiri (pas itu masih sejuta), karantina di sana juga harus kita tanggung sendiri, pokonya banyak yang bikin tidak yakin. Terus ternyata aku harus ngirim ijazah master yang udah di apostille di lembaga hukum nasional. Pada kasus ku, berarti aku harus apostile ijazah aku ke Belanda. dan aku belum melakukannya padahal udah diingetin sama orang-orang buat legalisir ijazah sebelum pulang ke Indonesia. Tapi karena saat itu aku udah mental breakdown, jadi aku nganggep aku akan pensiun super dini, and I didn’t bother ngurus-ngurus begituan. So this sealed the deal that I couldn’t go there for phd.

So, aku akan tetap lanjut mencari phd atau maybe just doing some research in a university because it’s my heart calling. Wish me luck.

Pengalaman ke Psikiater di Bogor

Awal ceritanya adalah aku sakit dan ke dokter spesialis penyakit tersebut. Kata dokter tersebut, secara fisik, organ tubuh aku baik-baik aja dan kemungkinan besar penyakit tersebut datangnya dari pikiran. Jadi dokter itu merujuk aku ke psikiater di rumah sakit tersebut.

Aku bikin janji dari aplikasi rumah sakit jadi langsung dapet nomer urut antrian. Aku dapet nomer pertama dan saat aku sampai, ternyata agak telat, dokternya udah dateng jadi udah masuk pasien sebelum aku.

Saat aku dipanggil masuk, aku nyapa dokternya, tapi Ia agak mengabaikan dan masih sibuk ngetik di komputer, mungkin ngga dengar.

Kemudian Ia bertanya, apa masalah aku. Terus aku ceritakan agak panjang lebar. Setelah itu ia memberi beberapa saran salah satunya untuk melakukan Cognitive Behavioral Therapy, terapi untuk menguraikan dan membenarkan mindset kita. Bisa dilakukan sendiri dengan bantuan workbook atau bisa juga ke psikolog.

Lalu aku dikasih resep obat antidepresan. Untuk biaya, konsutasi sekitar 500 ribu, dan obat 700 ribu.

Sejujurnya hasil konsul itu nggak sesuai ekspektasi ku karena aku ngga mendapat insight baru. Mungkin memang keahlian psikiater ya memberi obat bukan memberi pencerahan. Psikiater yang aku temui itu memang basis utamanya di rumah sakit jiwa jadi mungkin spesialisasi nya memang untuk orang yang sudah parah.

Karena kurang puas, besoknya aku konsultasi ke umiku. Ia memang sering mengisi training untuk healing luka batin tapi aku ga pernah mau ikut. Soalnya menurut ku banyak luka batinku dari diomelin umi pas masih kecil. Umi juga sebenernya udah minta maaf dan nyuruh aku buat ke professional aja untuk ‘healing’. Nah terus pas aku tau professional doesn’t really work for me, might as well give a shot to curhat with my mom.

Pas curhat ke umi, lumayan banyak ganjelan-ganjelan batin yang terurai. Jadi lumayan lega juga. Umi semacam ngegabungin cognitive behavioral therapy sama konsep qadha dan qadar.

Sesuai yang disaranin aku juga terapi sendiri pakai workbook. Buku yang aku pakai adalah “How to Do the Work”, penulisnya Nicole LePrera. Pendekatannya holistic, jadi selain membenarkan pikiran, kita juga harus memperbaiki sistem syaraf kita dengan teknik pernapasan yg benar, micronutrient dll. Setiap selesai bab juga ada evaluasi dan kontekstualisasi pada diri kita, supaya kita benar-benar ‘do the work’ untuk healing.

Buku lain yang menurut aku bagus dan islami adalah bukunya Yasmin Mogahed yang berjudul “Reclaim your heart”. Buku ini bagus buat yang punya masalah attachment dan rejection sensitivity.

Aku ke psikiater empat bulan lalu. Alhamdulillah sejak sebulan lalu aku udah sembuh dari penyakit psikomatik tersebut. Gejala fisik udah ngga ada. But I believe healing is a lifelong process, jadi kita harus selalu berusaha untuk improve diri dan mental kita.

Menyoal Rape Culture

Dengan adanya media sosial di zaman ini, kasus pelecehan seksual semakin banyak bisa terungkap, karena korban dapat bersuara secara anonim dan mendapat banyak dukungan. Momentum ini sering dimanfaatkan oleh influencer dan aktivis feminisme untuk menyebarkan ide mereka.

Menurut mereka, kita harus selalu berpihak kepada korban, walaupun kita belum tahu pasti kebenarannya. Itu karena selama ini, ketika perempuan melaporkan kasus pelecehan seksual, mereka akan dikesampingkan, tidak dianggap serius, dan malah perempuan tersebut dipertanyakan apakah pakaiannya mengundang. Mereka menyebut itu sebagai bagian dari Rape culture.

Rape culture sendiri artinya adalah pemerkosaan sudah dianggap biasa di suatu masyarakat dan ketika terjadi pemerkosaan maka perempuan yang disalahkan. Untuk membuktikan kasus pemerkosaan tidak mudah. Biasanya tidak ada saksi, untuk bukti pun harus dilakukan visum seluruh tubuh yang biasanya susah dilakukan karena korban trauma, pelaku pun bisa bilang kalau hubungan itu atas dasar suka sama suka. Karena frustasi akan hal tersebut maka muncul solusi “gerakan berpihak kepada korban dari awal walau belum ada bukti”.

Solusi tersebut berbahaya. Penuduhan tanpa bukti dapat menjadi fitnah dan kalau tidak benar dapat menghancurkan nama dan hidup seseorang. Selain itu, solusi itu juga tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Akar permasalahannya adalah banyak laki-laki yang tidak bermoral, objektifikasi perempuan, dan peraturan hukum yang lemah. Untuk menyelesaikan nya dibutuhkan solusi komprehensif sebagai berikut;

Pertama, tanamkan akidah islam di setiap individu. Kita harus sadar kalau kita selalu diawasi Allah dan sadar pula akan tujuan hidup kita agar tidak macam-macam. Bagi laki-laki, jangankan untuk memperkosa, melihat perempuan ketika sudah muncul syahwat saja dilarang, berdua-duaan si tempat sepi pun dilarang. Bagi perempuan, wajib menutup aurat dan ketika keluar rumah dan wajib meminta izin wali atau suami agar dipastikan keamanannya.

Kedua, rangsangan eksternal harus dikurangi. Media saat ini terlalu banyak menjadikan wajah dan tubuh perempuan sebagai komoditas demi keuntungan materiil, maka media harus diatur. Masyarakat pun berperan untuk melangsungkan gaya hidup islami. Karena pergaulan bebas banyak menjadi penyebab dari kasus pemerkosaan.

Ketiga, hukuman untuk pemerkosa harus tegas dan membuat takut. Tidak dapat disangkal bahwa walaupun tindakan preventif sudah dilakukan, pasti akan ada saja yang menyimpang di masyarakat. Dalam hal itu maka hukuman harus dibuat menakutkan. Dalam islam, pemerkosa dan pezina dirajam atau dilempari batu di jalan umum sampai meninggal. Pelaksanaan hukuman secara publik tersebut dapat membuat orang takut untuk melakukan larangan Allah tersebut.

Ketika Teh Pahit Terasa Manis

Di kantor ku, di pantry nya ada berbagai macam teh dari berbagai sumber. Yang paling favorit dan cepet habis adalah teh jahe citrus. Suatu hari saat coffee break aku ngobrol sama teman saya yang dari Cina sambil minum teh tersebut.

“Aku gak suka teh jahe yang itu, manis banget.” kata dia

“Ya gak usah pake gula lah.” kataku.

“Wait.. did you put sugar on your tea?”

“Yes, I did”

“It’s already too sweet even without sugar.”

Terus aku teringat teman cina ku yang lain saat kuliah juga ada yang heran aku minum teh pake gula, karena menurut dia teh itu udah manis.

Orang Belanda lain di kantor ku juga kalau minum teh pakai gulanya sedikit banget.

Gula yang berlebihan memang punya banyak dampak buruk bagi tubuh. Dia bisa bikin kita mudah lapar, bikin ketagihan, dan bisa menghambat kerja otak. (Untuk sumber, lihat di akhir tulisan)

Ada juga salah satu senior researcher di kantor ku, dia umurnya sekitar 70 tahun. Tapi dia masih sangat fit. Dia tiap tahun ikut winter marathon lintas tiga negara. Dia gak pernah izin sakit, dia bahkan gak tau mekanisme izin sakit ke kantor gimana. Dia bilang dia gak pernah olahraga, paling cuma jalan kaki tiap lunch dan sepedahan kemana-mana. Mungkin rahasia dia bugar, karena dia nggak suka “gula”. Dalam arti dia nggak suka cake, minuman bergula, dll, tapi dia tetep makan apa aja, coklat pun, asalkan mahal, tetep dia makan, nggak terlalu freak lah. Pokoknya dia pernah bilang kalau gula itu kayak drugs, jadi mending gak usah coba-coba.

Terus aku coba lah mengurangi gula dalam diet aku. Dimulai dari gak minum yang manis-manis. Aku akuin minuman manis bisa jadi instan energy boost tapi dia kandungan gulanya banyak, apalagi kalau kita ngebiasain nyetok jus box atau soft drink di kulkas. Beuh. Aku pun mencoba untuk minum teh tanpa gula. Awalnya emang pahit, tapi setelah beberapa hari, beneran jadi manis loh.

Mungkin ada kekurangannya kalau palette taste kita berubah. Beberapa orang bilang masakan aku kurang asin dan kurang berasa. Wkwk. it’s ok

Bibliography…

Avena, Nicole M., Pedro Rada, and Bartley G. Hoebel. “Evidence for sugar addiction: behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake.” Neuroscience & Biobehavioral Reviews 32.1 (2008): 20-39.

Molteni, Raffaella, et al. “A high-fat, refined sugar diet reduces hippocampal brain-derived neurotrophic factor, neuronal plasticity, and learning.” Neuroscience 112.4 (2002): 803-814.

Shearrer, Grace E., et al. “The impact of sugar sweetened beverage intake on hunger and satiety in minority adolescents.” Appetite 97 (2016): 43-48.