Kita adalah sejarah

Kemarin malam, aku melakukan riset tentang nenek buyut aku, Perempuan chinese yang lahir sekitar tahun 1720-1840 dan berimigrasi dari China ke Indonesia.

Aku mencari ada kejadian apa di Indonesia dan Cina sekitar tahun 1800, tapi sebelumnya aku mau menjelaskan kenapa sejarah bermanfaat dalam analisis ini. Zaman dulu, mobilitas manusia tidak semudah zaman sekarang. Untuk menyusuri jalur sutra, dibutuhkan waktu 2 tahun dari Xi’an, China ke Roma, Italia. Anggap jarak cina-malaka, 1/5 kali dari jalur sutra, maka butuh waktu 5 bulan untuk kapal dari Cina sampai ke Indonesia. Aku rasa pasti ada alasan yang kuat bagi seorang perempuan untuk menempuh perjalanan super panjang tersebut.

Tebakan asal ku yang pertama, Ia adalah dokter (physician, ahli akupuntur) atau cendekiawan. Secara subyektif, aku punya kepercayaan-diri tersendiri tentang garis maternal aku. Aku adalah anak perempuan pertama dari anak perempuan pertama, kalau di kisah Alchemist, aku akan otomatis jadi the sorceress atau punya kekuatan sihir haha. Tapi serius, umi aku adalah orang terpede dan terinfluential yang aku kenal. Mbah putri aku adalah orang termengayomi dan terpenyayang. Jadi aku punya keyakinan kalau neneknya2× nenek aku juga adalah seorang perempuan keren.

Hal pertama yang aku temukan adalah pada tahun 1800 di Cina terjadi perang Opium. Perang antara British-east-indiche-company (BEIC) dan orang Cina. Penyebabnya aku ngga terlalu paham, tapi yang penting di tahun yang sama, VOC di Indonesia direbut kekuasaan nya oleh BEIC tersebut dan Cina juga kalah di perang Opium tersebut. Tentara dari BEIC itu banyak orang india dan berdasarkan 23andMe leluhur aku yang dari South Asian juga nyampe ke Indonesia tahun 1800-an. Sedih juga sejarahnya, tapi kalau memang faktanya begitu ya sudah.

Sampai situ, aku masih belum bisa ketemu link, bagaimana third great grandmother aku bisa sampai ke Indonesia, karena walaupun BEIC, ngimpor tenaga kerja dari Cina ke Indonesia, kemungkinan tenaga kerja itu laki-laki karena mereka butuh kerja kasar di ladang untuk menggarap ladang-ladang opium.

Akupun mencari kemungkinan lain. Mungkin, fourth atau fifth great grandma aku yang datang dari Cina. Karena ada migrasi besar-besaran juga sekitar tahun 1700-1800 ke pulau Belitung. Mereka datang untuk menambang timah. Banyak dari mereka yang membawa anak istri dari Cina, mereka datang dari provinsi Guangdong. Menariknya yang menemukan timah pertama, Lim Tau Kian, adalah bangsawan Qing yang jadi petinggi di kekaisaran Johor lalu masuk islam.

Atau kalau ditarik garis lebih ke atas lagi, yaitu sixth atau eight great grandma, sejak tahun 1300 memang banyak orang Cina yang berlalu lalang ke Nusantara melewati jalur sutra untuk berdagang. Beberapa dari mereka adalah orang muslim yang memang mengemban dakwah islam, karena di ujung jalur sutra, Guang Zhou, terdapat populasi muslim terbanyak dan tertua di Asia Timur. Mesjid tertua di sana, Huaisheng Mosque, dibangun oleh Saad bin abi Waqqas, salah satu Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama masuk islam.

Dari semua kemungkinan di atas, satu hal kesamaannya adalah, mereka (my great grandmothers) menikah dengan sesama chinese, sampai generasi ke 5 di atas aku atau akhir abad ke-19. Pada masa itu, di Indonesia sedang berkembang politik etis, dimana Belanda memberi masyarakat kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Tapi, mereka cukup shady memisahkan sekolah pribumi, Belanda, dan Cina. Mereka menganggap orang Cina perlu diberi perlakuan khusus.

Pada masa itu juga, terjadi bentrok antara Chinese dan Sarikat islam karena, pedagang Chinese dianggap mengancam pedagang pribumi. Selain itu, Belanda juga melihat kalau orang Cina berasimilasi dan tiba-tiba punya jiwa patriotisme bisa gawat karena jumlah mereka banyak, jadi mereka membuat kelas-kelas, kelompok-kelompok sedemikian rupa.

Nah, bagian favorit aku, walaupun segala pemisahan dan pengkelasan tersebut, my third great grandma memutuskan untuk

“Bodo amat sama kelompok sosial! Aku akan nikah sama orang pribumi”.

Menurut aku itu badass banget. Mungkin Ia juga memberontak dari orang tua nya, ia memutuskan untuk jadi dokter walaupun orang tua nya ingin dia melanjutkan usaha keluarga.

Semua yang aku sampaikan tentunya hanya spekulasi. Aku juga tidak memaparkan semua kemungkinan imigrasi cina ke Indonesia, karena kita cenderung mendengar apa yang kita ingin dengar. Aku mungkin memilah yang aku anggap bagus-bagus saja.

Bagaimana pun, aku belajar dari sini. Kalau aku aja, segitu besarnya rasa ingin percaya kalau nenek buyut aku adalah perempuan yang hebat, bagaimana dengan cucu cicit aku nanti? Mereka pasti lebih berpikiran maju dan mereka bisa akses informasi tentang aku dengan mudah. Aku juga generasi pertama yang datang jauh-jauh dari Indonesia ke Belanda. Apakah apa yang aku lakukan dan perjuangkan bisa bikin mereka bangga?

Tapi di sisi lain aku ngerasa, manusia itu mudah terlupakan. Aku kira lima generasi di atas kita itu tidak terlalu jauh tapi umi sama abi aku ngga tau apa-apa. Well, aku pun ngga kenal sama buyut aku. We only matter for those who are closest to us. Jadi, aku merasa, penting bagi kita untuk living in the moment dan boleh aja mencoba untuk menorehkan sejarah, tapi jangan lupa untuk mengapresiasi orang-orang terdekat kita yang selalu ada buat kita.

Jangan terlalu sibuk mengumpulkan kerikil sampai berlian di genggaman kita terlepas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s