Why do I like to label myself

Dulu aku ngerasa aku aneh. Aku jarang nyambung ngobrol sama orang dan aku merasa beda deh dari orang-orang. Tapi bukan beda yang unik dan estetetik kaya anak jaman sekarang, lebih kayak beda yang “I don’t fit in”, kayak salah pake baju seragam di hari rabu yang harusnya pake batik. Dan aku merasa, apa yang salah dari diri aku?

Terus pas kuliah temen aku, nyebut-nyebut tes MBTI (Myers Briggs Type Indicator). Dia bilang dia adalah INTJ (the mastermind (si perencana)), terus aku mikir, paling aku juga INTJ, terus ternyata, aku adalah INTP (the logician (si pemikir)) Saat itu aku belum terlalu mempelajari MBTI, terus pas kuliah di Belanda, temen aku ada juga yang suka sama MBTI, namanya Lita, dan ternyata dia juga seorang INTJ. Jadi dari situ kita mulai sering diskusi.

Dan dari Quora aku jadi ngeuh kalau MBTI itu pake cognitive functionnya Jung dan itu mirip sama teori STIFIN dan hasilnya agak sejalan.

Aku tes STIFIN pas SMA. STIFIN nentuin tipe personaliti pakai sidik jari. Tipe STIFIN aku Thinking Ekstrovert (Te), tapi INTP itu main functionnya Thinking Introvert, jadi kayanya kepribadian aku agak berubah dari lahir. Nah, pokoknya dari situ aku ngerasa, tipe kepribadian itu berpola dan masuk akal.

Mungkin kalau kalian kurang familiar sama MBTI, aku jelasin singkatnya yah, kalau mau yang ribet itu penjelasannya pakai Jungian Functional Stack, tapi riweuh. Jadi, MBTI menelompokkan orang berdasarkan:

  1. Dari mana dia dapat energi? I (introvert: dari dalam dirinya), E (ekstrovert: dari luar dirinya)
  2. Gimana dia memperoleh informasi? N (intuiting: informasi abstrak yang cuma bisa dibayangin), S (sensor: informasi nyata yang bisa diindera)
  3. Gimana dia membuat keputusan? T (thinking: logis dan kaku), F (feeling: empathetic, situasional, mempertimbangkan orang lain)
  4. Gimana dia menjalani hidupnya? J (judging: terencana), P (perceiving: fleksibel).

Rata-rata orang yang aku kenal, alias manusia komputer, mereka itu INTJ. Introvert karena jelas buat kerja di depan komputer seharian, cuma orang introvert yang ga bosenan. Intuitive karena coding itu banyak berimajinasi, buat bikin alur data dan logic nya. Thinking karena coding itu hard logic, kalo bener ya bener, kalo salah ya salah. Judging karena programmer yang sukses itu yang tak tek cepet gitu. Penjelasan lebih okenya sih, INTJ itu cognitive function nya adalah Ni-Te (Intuiting Introvert-Thinking extrovert), jadi dia untuk menyelesaikan masalah, bakal nyari-nyari masalah serupa sebelumnya jadi dia problem solving lebih cepet. Dibanding INTP yang cognitive functionnya Ti-Ne (Thinking introvert-intuting extrovert), INTP kalau ada problem, dia bakal nyari referensi dari framework logika di otaknya yang udah dia bangun dalam waktu yang lama.

Gampangnya, INTJ itu adalah Jimmy Neutron pas lagi bilang “kekuatan otak”,

INTP itu adalah Richard Hendriks di Silicon Valley, dia butuh satu episode buat ngambil keputusan.

Jadi apa manfaat mengetahui tipe personaliti?

Yang pertama buat aku, Kita jadi tau kekuatan kita. Thinking itu jago menginvestigasi masalah. Dari situ aku tau, walaupun aku ngga pinter-pinter amat di sekolah, aku berpotensi jadi dokter, saintis, atau programmer. Dan aku tau ke introvert an aku itu sebenernya adalah kelebihan, karena nggak semua orang tahan duduk sendirian di depan komputer lama-lama untuk menyelesaikan masalah. Kebanyakan orang akan bosan.

Banyak orang tidak suka dengan labelling ini karena label banyak digunakan sebagai alasan orang malas berubah. Misal “Sori aku emang telat mulu dan ga taat peraturan karena aku adalah intuiting”.

Setelah mengetahui tipe aku, aku malah lebih berusaha untuk memperbaiki diri. Kayak ketika kita sakit, pasti lebih mudah diobati kalau kita tau penyakitnya apa.

Jadi masalah aku adalah, aku orangnya susah berteman. Aku tau bahwa aku emang pada dasarnya susah nyambung sama orang-orang karena pemikiran aku yang kompleks dan aku nggak tertarik sama hal-hal trivial. Aku susah bersosialisasi sama orang-orang karena kehidupan sosial nyedot energi aku.

Karena aku tau tipe aku, untuk mencari solusinya aku biasanya google “Improve social skill INTP” terus bakal muncul jawaban-jawaban dari orang INTP.

Atau aku bakal nge-follow orang-orang sukses dengan tipe sama kaya aku di Quora. Menurut aku saran dari mereka lebih membantu dibanding kalau kita minta saran ke orang yang beda tipe, mereka bakal bilang “masa cuma ngobrol-ngobrol di kantin pas istirahat aja susah?”. Mungkin perumpaannya seperti, kalau kita mau cari tau cara masuk Harvard, pasti lebih bermanfaat info dari orang Indonesia yang kuliah di Harvard, daripada dari orang Amerika yang kuliah di sana, karena kesamaan latar belakang.

Intinya, setiap manusia memang diciptakan unik. Tapi pelabelan ini membantu aku untuk mencari orang-orang yang setipe sama aku, sehingga aku lebih mudah untuk menyelesaikan masalahku. Terkait dengan keakuratan nya, dan apakah dia saintifik atau tidak, aku pun belum tau banyak. Yang jelas, sejauh ini labelling membantu aku. Personality test bukanlah agama, jadi ngga usah serius-serius amat. Ambil yang bermanfaat aja.

Sekian dan terima kasih. Apakah tipe kamu?

One thought on “Why do I like to label myself

  1. Saya INTJ. Sementara sebagian besar keluarga saya adalah ekstrovert. Mereka sejak dahulu menganggap saya aneh. Bahkan ada yg membenci saya tapi saya tidak peduli. Masalahnya kedua orangtua saya adalah ekstrovert yg nggak pernah memahami kepribadian saya. Mereka nggak mengerti dengan tes MBTI or something like that. Mereka penganut pakem *Orangtua nggak boleh dibantah*. Padahal saya sulit mengikuti semua permintaan mereka yg nggak logis. Dan lagi, mereka berpikiran sempit. Ini mengerikan sekali.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s