Berlarut-larut mengingat kegagalan

Aku ingin banget PhD, tapi aku takut tulisan aku gak bagus. Aku juga takut nggak bisa berkomunikasi dengan pembimbing. Pas di Belanda, sempat ada periode dimana aku merasa aku ngga bisa bahasa Inggris. Orang-orang sering banget ngomong “I’m sorry what did you say?” ke aku.

Ada satu momen yang paling membekas. Aku lagi diskusi tentang tesis sama dosen dan asdos. Dosen aku ngga ngerti sama penjelasan aku. Terus aku ngejelasin dengan cara lain. Terus beliau bilang “I’m sorry, I’m really lost here. Asdos, do you understand?” Asdos bilang “no”. Saat itu aku merasa dipermalukan dan sedih. Air mata aku menggenang. Aku berusaha buat ngga ngedip biar air mata itu nggak jatuh. Kemudian aku keluar dan nangis deh. Aku sering keinget itu tiap kali aku muncul keinginan untuk PhD.

Itu adalah salah satu contoh perilaku avoidant menghindari suatu hal karena anxiety atau grogi karena alasan yang tidak jelas kebenarannya.

Selama ini, anxiety aku, aku kubur dalam-dalam aja. Karena solusinya gampang. Aku ngga usah PhD dan ngga usah milih untuk tinggal di luar negri aja. Tapi ternyata mengubur emosi itu adalah stress response yang nggak sehat dan bikin kita cepet tua.

Hubungan antara stress dan penuaan dini tersebut dijelaskan oleh Dr. Elizabeth Blackburn dan Dr. Elissa Epel, di bukunya yang berjudul The Telomere Effect: A revolutionary approach to living younger, healthier. Penelitian mereka mengenai telomere tersebut mendapatkan nobel prize. Dr Elizabeth adalah molecular biologist yang meneliti telomere di binatang kecil. Telomere adalah rangkaian dna yang berada di ujung-ujung kromosom.

Telomere adalah yang berwarna putih di kromosom yang bentuknya seperti huruf X

Dr. Elizabeth menemukan bahwa setiap kali sel membelah, telomere menjadi semakin pendek. Sehingga panjang telomere dapat menjadi acuan untuk menentukan umur sel. Dr. Elissa tertarik dengan telomere tersebut. Dia adalah psikolog yang menangani orang tua2 dari anak berpenyakit kronis. Ia melihat para orang tua tersebut terlihat lebih tua dari umurnya sehingga Ia ingin mengetahui apakah stress mempengaruhi umur biologis seseorang. Hasilnya ternyata benar.

Ketika panjang telomer habis, sel-sel dalam tubuh kita tidak dapat saling berkomunikasi dengan benar sehingga muncul berbagai masalah. Antara lain, sistem imun melemah, inflamasi, sakit jantung dan paru-paru.

Kabar baiknya, panjang telomere itu reversibel. Karena kita punya enzim telomerase. Berdasarkan eksperimen, enzim tersebut dihasilkan banyak saat meditasi. Selain itu perubahan psikologis seperti memiliki tujuan hidup juga menambah enzim telomerase.

Oke, itu bagian tentang telomere. Sekarang bagaimana hubungannya dengan mengubur emosi. “Sekarang, coba jangan pikirkan beruang kutub!” Pasti malah beruang kutub yang ada di otak kita. Ketika kita mencoba untuk tidak memikirkan sesuatu, kita akan memikirkan itu, terus perasaan kita jadi ngga enak, terus kita jadi merasa bersalah karena dan ngga enak karena kita ngga enak. Udahla stress dobel-dobel. Kesian telomere kamu.

Jadi, aku memutuskan untuk tidak mengubur perasaan dan aku akan menghadapinya. Caranya adalah 3R, terinspirasi dari youtube ADHD brain: how to deal with failure anxiety tapi aku sesuaiin aja.

Recognize

Sadari bahwa emang pengalaman gagal nempel lebih kenceng dibanding pengalaman baik. Penelitian[1] yang dilakukan oleh sejumlah ahli di Tel Aviv Medical Center dan Departemen Neurosurgery UCLA, menemukan bahwa ketika kita melakukan sesuatu yang berresiko, bagian otak yang aktif adalah hippocampus, bagian yang berhubungan dengan memori dan anxiety. Tapi ketika kita mengalami kemenangan atau kesuksesan otak bagian tersebut tidak aktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengalaman buruk cenderung lebih disimpan di memori dibanding pengalaman sukses.

Remember

Ketika kita sudah menyadari bahwa memori kita ada biasnya. Kita bisa coba lagi mengingat-ingat fakta sebenernya tanpa dipengaruhi emosi.

Contoh, pengalaman buruk yang selama ini aku ingat berulang-ulang adalah aku didebat sama dosen sampai nangis. Padahal kalau aku ingat-ingat lagi, besoknya dosen tersebut minta maaf. Terus beliau pun jadi pembimbing internship aku dan komunikasi kita abis itu baik-baik aja.

Reframe

Setelah mengumpulkan semua fakta-fakta, kita bisa mengubah sudut pandang kita. Kemudian kita dapat menyusun ulang narasi di memori kita.

Misal, kalau di kasus aku. Ceritanya aku ubah jadi begini. Saat itu, lagi summer di Belanda, dan mood aku paling jelek pas summer karena kurang tidur. Terus, aku ngerjain tesis dengan banyak tekanan. Dosen pembimbing pun punya tekanan sendiri. Ia bilang saat itu udah siang jadi dia ngantuk dan cranky. Jadilah kejadian clash tersebut yang tak terelakan. Tapi pada akhirnya, aku bisa menyelesaikan tesis aku. Kesulitan yang amat berat pada masa tesis, menjadikan internship aku, seperti jalan-jalan di taman. Mudah, santai dan healing. Mungkin juga sikap santai itu yang bikin aku ditawari kerja di sana. Jadi kesulitan itu secara tidak langsung merupakan alasan kesuksesan.

[1] Gazit, T., Gonen, T., Gurevitch, G. et al. The role of mPFC and MTL neurons in human choice under goal-conflict. Nat Commun 11, 3192 (2020). https://doi.org/10.1038/s41467-020-16908-z

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s