A Goodbye

Hari itu akhirnya tiba. Hari dimana aku meninggalkan Belanda dan melepaskan residence permit ku. Saat itu aku memang sudah jenuh di Belanda. Aku nggak bahagia lagi. Satu-satunya plus tinggal di sana hanyalah uang. Tapi kesehatan mental tidak bisa dibeli dengan uang, jadi pulang merupakan keputusan terbaik.

Aku sudah berhenti kerja dari sebulan sebelum pulang. Aku ingin membandingkan saja apakah kalau aku nggak bekerja, aku bakal lebih happy. Tapi ternyata tidak, obatnya memang hanya Indonesia.

I’m coming home, coming home… Tell the world I’m coming home…

Biasanya kalau mahasiswa internasional mau pulang, Ia akan menjual barang-barangnya. Karena apartemen harus kosong ketika inspeksi dan penyerahan kunci. Tapi, karena saat itu corona lagi merebak, aku takut ketemu orang. Jadi aku bilang saja ke calon penghuni apartment selanjutnya, kalau aku mau ngasih dia, semua furniture dan tanaman aku. Dia pun setuju.

Hari inspeksi dan penyerahan kunci adalah hari yang sama dimana kita (aku dan suami) terbang ke Indonesia. Hari itu kita ternyata masih sibuk bersih-bersih. Lebih tepatnya buang-buangin barang. Kita harus memastikan kulkas, lemari, dan kamar mandi kosong. Aku juga menyapu bersih semua barang di atas meja. Sampah tersebut langsung kita buang ke tempat sampah di pusat kota, karena tempat sampah gedung apartemen kami kecil.

Tidak berapa lama, aku teringat…

“Passpor aku ada di tas kecil yang tadi aku buang”

Suamiku pun langsung stress. Aku nggak pernah liat dia se stress itu. Ya iyalah, beberapa jam lagi kita harus terbang ke Indo, eh passport, satu-satunya barang terpenting, malah dibuang dan nggak tau bisa diambil atau tidak. Karena tempat sampah di Belanda itu, kebanyakan nyampe ke bawah tanah.

Dari luar terlihat kecil
Begitu diangkat.. wew.. hampir separuh truk sampah.. nanti bagian paling bawahnya kebuka buat ngebuang sampah ke truknya.

Tempat sampah di pusat kota, lebih besar dan lebih dalam dari ilustrasi tempat sampah di atas. Jadi bisa dibayangin, kenapa suami ku panik banget. Suamiku menyarankan untuk menelpon gementee atau kantor wali kota, tapi sabtu libur dan ga ada orang. Akupun nekat aja langsung ke lokasi dan bawa sapu buat mancing.

Alhamdulillah ternyata tempat sampah lagi dalam keadaan penuh dan sehabis kita buang sampah, belum ada lagi orang yang buang sampah. Tempat sampah nya agak tinggi, jadi aku harus digendong di pundak suami buat mancing tas itu. Aku berhati-hati, takut tasnya terjun bebas. Akhirnya kita berhasil mengambil tas berisi passport itu. Ada penjaga toko yang melihat kita dan cekikikan “I should’ve taken a picture of you guys because that was so funny.” Dan aku tidak mengelak. Coba aja dia motoin kita, bisa aku taro di blog sini kan.

Setelah kejadian itu, aku amat bersyukur. Walaupun aku grogi akan hasil inspeksi, aku berpikir “nothing worse could happen”.

Pemilik gedung datang bersama anaknya. Ia memeriksa listrik dan segala rupa dan Ia bilang tidak ada kerusakan. Tapi dia bilang kulkas, dapur dan kamar mandi kurang bersih. Tidak lama setelah itu, calon penghuni setelah kita tiba. Yang datang ternyata pacarnya. Mungkin dia tidak komunikasi sama pacarnya jadi dia banyak complain kenapa banyak furniture yang ditinggal. Dia juga bilang gak suka sama taneman2 indoor di situ. Dalam hati, aku udah nyes aja “kalau bisa dibawa ke Indonesia sih, aku bawa semua” 😭

Kami sepakat untuk bayar 50 euro dan diberikan kepada penghuni setelahnya untuk bersih-bersih. Alhamdulillah karena deposit 800 euro aku kembali.

Kami pergi ke bandara naik bus 2x dan kereta. Untungnya walaupun jalur kereta lagi ada perbaikan, masih ada bis pengganti untuk ke stasiun Utrecht. Di Stasiun Utrecht ramai sekali, kirain ada gangguan jadwal kereta, karena biasanya begitu. Ternyata cuma ada pertemuan anak-anak Tiktok. Alhamdulillah.

Sesampainya di Schipol aku langsung narik semua uang yang ada di OV chipkart aku, kartu untuk transportasi. Kitapun makan bakso di restoran Indonesia di bandara tersebut. Overpriced memang, tapi yang penting happy.

Penerbangan pulang kami cukup menyenangkan. Karena awal corona, jadi agak sepi. Aku nggak bisa tidur, mungkin karena terlalu bahagia.

Aku nggak menyebut kepulangan ini sebagai back for good alias pulang untuk selamanya. Aku mungkin udah bukan merupakan orang yang kerja di perusahaan bioteknologi di Belanda. Tapi aku masih orang yang sama dengan skillset yang sama dan mungkin akan bertambah. Kembali ke Belanda atau ke belahan bumi yang lain bukan hal yang mustahil.

Tapi untuk saat ini, aku mau istirahat. Aku dan suami ku punya goal lain yang ingin kita capai.

Sampai jumpa Belanda. Tempat di mana aku berpetualang selama empat tahun dalam hidupku. Aku belajar banyak. Terima Kasih. Alhamdulillah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s