Reparenting

Reparenting adalah teknik terapi di bidang psikiatri yang dipelopori oleh Jaqui Lee Schiff pada tahun 1960. Teknik reparenting dilandasi asumsi bahwa kebanyakan penyakit mental, seperti Schizophrenia dan bipolar disorder, disebabkan oleh trauma masa kecil. Terapis akan berperan sebagai orang tua untuk mengakses inner child kita agar kita bisa mengisi kekosongan dalam diri kita yang tidak terpenuhi saat kita masih kecil. Ide tersebut agak kontroversial dan riset tidak menunjukan keefektifannya.

Namun belakangan, nama reparenting kembali mencuat namun dengan teknis yang berbeda. Di buku “The Emotionally Absent Mother” (Cori, 2017), Jasmin L. Cori menggunakan teknik reparenting untuk menyembuhkan luka masa kecil kita. Ia mengawali dengan menjelaskan cara-cara untuk mengenali trauma masa kecil kita atau apa yang hilang dari masa kecil kita, kemudian kita menghubungkan dengan keadaan atau sejarah ibu kita di masa itu. Setelah kita mengenalinya, kita diajarkan untuk mengisi kehampaan di hati dengan berempati ke ibu kita dan menjadi orangtua untuk diri kita sendiri (reparenting). Buku ini bagus kalau kamu merasa kamu punya luka masa kecil, tapi kalau kamu belum merasa pun di buku ini ada semacam tutorial cara mengenalinya.

“Menjadi orang tua untuk diri sendiri”

Trauma masa kecil tidak harus selalu dengan kekerasan fisik atau penganiayaan. Bisa juga dari keabsenan orang tua dalam hidup kita. Misal perasaan kita sering diabaikan oleh orang tua. Kita hanya dianggap sebagai ‘asset’ orang tua, walaupun kita adalah entiti yang berdiri sendiri. Kita harus selalu menuruti semua yang dikatakan orangtua walaupun mereka tidak konsisten.

Perlu diingat bahwa mengenali trauma bukan berarti kita memupuk kebencian terhadap orang tua kita. Tapi ini adalah bagian dari usaha kita untuk menyembuhkan mental kita. Bagiku sendiri, aku tau orang tua ku sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Aku sayang sama mereka sepenuhnya tanpa ada setitik pun rasa tidak suka. Bagian dari reparenting itu sendiri adalah berempati kepada orang tua, karena tidak ada manusia yang sempurna, bahkan kita sebagai anak bisa jadi adalah cobaan terberat untuk mereka.

Dari kecil aku selalu mikir tiap kali aku berbohong atau membangkang karena orang tua yang keras dan ketat, “nanti kalau aku jadi orang tua bakal begini begini ke anak aku. Supaya anak aku merasa disayang dan nggak memusuhi orang tua”. Sampai dewasa pun aku masih seperti itu, aku pengen ngajarin anak aku begini begitu supaya jadi anak yang bener dan jangan kaya aku. Tapi kenapa kita harus nunggu saat punya anak? Kenapa ngga kita jadi orang tua buat diri kita sendiri?

Aku suka kesel kalau ada orang yang marah-marah nyuruh aku sholat. Karena dulu ibu aku selalu nyuruh sholat sambil marah-marah. Bahkan ketika aku kelewat sholat karena capek beres-beres rumah, aku dimarahin abis-abisan. Padahal kelewat sholat karena ketiduran nggak apa-apa asal langsung sholat pas bangun. Beda pas di Belanda, kalau ada orang yang mengingatkan untuk sholat aku merasa senang karena pasti mereka juga ngasih tau tempat sholat.

Berdasarkan Hebb’s rule: Cells that fire together, wire together (Hebb, 1949), kalau ada dua atau lebih sistem yang terus dilakukan secara bersamaan, maka akan terjadi asosiasi antar dua sistem tersebut. Misal sistem pendengaran aku mendengar perintah sholat, karena dulu perintah itu selalu dibarengi dengan marah-marah maka yang timbul di perasaan aku adalah kesal dan defensif. Otak aku mengaitkan perintah sholat dengan judging behavior. Apalagi kalau diingetinnya dengan bilang “Udah jam segini masih belum sholat”, itu aku merasa dijudge abis sebagai orang yang kaga bener. Sementara sebenernya bisa kok perintah sholat dikaitkannya dengan caring behavior, seperti saat di Belanda. Aku merasa dipedulikan (taken care of) karena mereka tau sholat itu kewajiban dan berusaha menolong aku menunaikan kewajiban itu.

Aku berpikir, kalau aku punya anak gak akan aku nyuruh sholat sambil marah-marah. Aku akan ajarin ke anak kalau sholat itu bentuk rasa syukur kita ke Allah dan waktu kita untuk jadi vulnerable dan meminta sebanyak-banyaknya. Kalau anak aku malas sholat, akan aku ajak diskusi apa yang membuat dia malas, dan kita coba selesaikan bersama-sama. Tapi mungkin karena sekarang belum punya anak aku bisa mulai membenarkan mindset aku sendiri. Aku masih merasa kesel kalau disuruh sholat. Maka aku akan jadi orang tua yang aku inginkan. Aku akan mengajarkan diriku sendiri untuk beribadah sebagai kebutuhan pribadi dan lebih meningkatkan kedekatan aku kepada Allah. Aku akan berperan sebagai orang tua yang mendidik diri aku sendiri dengan giat menimba ilmu agama.

Begitupun dengan baca al-quran. Kegiatan menhafal al-quran dulu bagaikan latihan militer. Bahkan sampai sekarang aku kalau ditanya “kamu masih ngafalin quran ngga?”, fight or flight response aku langsung ketrigger dan rasanya pengen bilang “sa pamit mau pulang..”. Tapi sebagai orang tua dari diri aku sendiri aku akan bilang ke inner child aku, “It’s okay kalau kamu jadi kaya berdebar ketakutan. Ada aku di sini. Kita akan melakukan ini bersama-bersama. Tidak apa-apa pelan-pelan saja.”

Orang yang mempunyai childhood trauma cenderung punya self worth yang rendah. Mereka tidak menghargai diri mereka karena saat kecil mereka sering diabaikan kebutuhan psikis dan emotional jadi mereka merasa tidak berarti. Memisahkan inner child kita dengan diri kita yang sekarang dapat membantu memulihkan kepercayaan diri kita. Karena kita bukanlah luka yang ada pada diri kita. Dan hanya kita yang dapat menyembuhkan diri kita sendiri.

Sebenarnya aku cuma menjelaskan sedikit banget dari reparenting ini. Aku cuma menjelaskan pengertian dan kontekstualisasi nya pada diriku. Kalau kalian mau belajar lebih lanjut, tonton videonya Kati Morton di youtube di link di bawah ini. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum wr wb.

What is Reparenting in Therapy? | Kati Morton https://www.youtube.com/watch?v=_9NXOFO1LFs&ab_channel=KatiMorton

How to overcome Childhood Emotional Neglect | Kati Morton https://www.youtube.com/watch?v=HtDIFA5KhWo&ab_channel=KatiMorton

Cori, J. L. (2017). The Emotionally Absent Mother, Updated and Expanded Second Edition: How to Recognize and Heal the Invisible Effects of Childhood Emotional Neglect. The Experiment.

Hebb, D.O. (1949). The Organization of Behavior. New York: Wiley & Sons.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s