How I got My Scholarship to Study Abroad part 2

Aku pernah baca di blog orang tentang hukum “delapan aplikasi”. Jadi misal kita apply beasiswa tapi gagal terus, tenang aja, karena aplikasi kita di beasiswa ke delapan pasti dapet. Teori yang aneh tapi cukup masuk akal karena semakin sering kita apply maka semakin terasah juga essay kita atau kemampuan menjawab pertanyaan interview.

Ada juga yang bilang kalau beasiswa itu untung-untungan. Karena banyak orang pintar yang gagal dapat beasiswa dan di sisi lain banyak orang yang biasa-biasa aja tapi menang beasiswa.

Bagiku sih mendapatkan beasiswa itu pastinya butuh usaha yang keras dari diri kita sendiri, tapi karena saingan kita banyak, ya kita harus terus bertawakal kepada Allah juga.

Terkait dengan hukum “delapan aplikasi”, funny enough, aku memang lolos beasiswa saat lagi apply beasiswa yang ke delapan, banyak banget ye, dan beberapa gagal karena kecerobohan aku. Memalukan. Jadi begini kronologisnya;

  1. ALFABET

Beasiswa ini adalah kerja sama suatu lembaga di Eropa, IPB, dan beberapa universitas di Uni Eropa. Peruntukkannya khusus untuk lulusan IPB yang mau mengambil master di universitas di Eropa tersebut. Waktu itu aku daftar buat ke Universitas Gottingen. Saat itu aku tidak datang saat wawancara karena sedang tidak enak badan dan besoknya akan tes LPDP. Jadi aku semacam mengundurkan diri. Ternyata aku masuk ke waiting list walaupun tidak ikut wawancara. Nyesel deh. Mungkin kalau aku datang wawancara aku bisa dapat beasiswa itu.

2. LPDP

Beasiswa incaran sejuta umat ini adalah target utama ku karena katanya tidak ada kuota. Asal kita memenuhi syarat dan hasil seleksi tahap 2 bagus maka kita akan dapat beasiswa tersebut. Aku sebenernya optimis kalau aku bakal diterima karena aku merasa interview, focus group discussion dan essay lancar-lancar saja. Dan aku sudah diterima di Glasgow University. Aku juga apply di bidang prioritas yaitu sains dan teknologi. Tapi ternyata aku gagal. Kita bisa minta score sheet kita, supaya tau kita kurang dimana. Score aku sekitar 145 dengan passing grade 150. Karena gagal ini, aku jadi panik. LPDP punya peraturan kita hanya bisa apply beasiswa ini 2x seumur hidup. Jadi aku mulai mencari-cari beasiswa lain. Aku ingin berangkat kuliah tahun itu juga.

3. StuNed

Aku tau beasiswa ini saat ngobrol-ngobrol pas LPDP. Banyak dari mereka yang mau ke Belanda. Padahal sebelumnya aku nggak melirik Belanda sama sekali. Aku jadi penasaran ada apa di Belanda? Dari situ aku menemukan StuNed, full scholarship dari pemerintah Belanda. Persyaratannya juga aku sudah punya semua kecuali unconditional LoA dari universitas di Belanda. Karena deadlinenya 2 minggu lagi, akupun brute force apply ke banyak universitas di Belanda. Tapi yang memberi LoA tercepat adalah Wageningen University, jadi aku apply StuNed ke situ. Universitas lain mengirim LoA baru setelah aku sudah mengumpulkan aplikasinya. Dan hasilnya adalah… gagal juga… aku hanya masuk waiting list. Aku tidak banyak berharap karena mengingat waiting list dari alfabetpun aku akhirnya tidak dapat.

4. Beasiswa Unggulan

Beasiswa ini adalah beasiswa dari Kemendikbud. Aku tau beasiswa ini dari ibu ku karena temannya adalah yang mengelola beasiswa ini. Beasiswa ini jarang diketahui dan katanya stipend tidak banyak. Untuk kuliah di Belanda misalnya, kira-kira uang saku sekitar 5 juta rupiah. Aku kira beasiswa ini seperti ada dan tiada ternyata aku baru liat email undangan wawancara pas aku udah lulus kuliah master. Email itu masuk spam atau memang kebanyakan email aku isinya spam.

5. Australian Awards Scholarship & New Zealand Scholarship

Kedua beasiswa ini mirip jadi aku gabung. Aku lupa apakah aku benar-benar sudah submit aplikasinya atau belum. Seingatku mereka ada essay yang aku bingung nulisnya bagaimana. Atau kalau tidak salah ada biaya saat daftar ke universitas. Dan it’s a bit inconvenient for me buat bayar-bayar. Pokoknya tidak ada rejection email jadi aku lupa apakah aku sudah benar-benar mendaftar.

7. Fulbright Amerika

Ini beasiswa buat ke Amerika. At this point, kirim-kirim lamaran beasiswa sudah jadi terbiasa banget. Fulbright juga tidak ada rejection email nya, tidak ada juga email bahwa dokumen aplikasi sudah diterima dengan baik. So, you know, this one also like antara ada dan tiada.

8. Ignacy L dari Polandia

Saat aku sudah hampir putus asa, aku ke EHEF, dan aku dapat info kalau ada beasiswa ini. Persyaratan nya juga aku sudah punya semua, tinggal bikin research proposal. Karena aku sudah mulai suka baca paper bioinformatik, jadi cukup cepat juga aku bikin backgorund dan method. Aplikasi nya aku antar langsung ke kedubes Polandia. Saat pulang naik kereta aku dapat telfon dari Nuffic Neso Indonesia yang bilang, aku dapat beasiswa StuNed karena ada yag mengundurkan diri. I was so happy. Aku langsung ngabarin orang tua dan temen-temen sesama pencari beasiswa. Sore itu stasiun Bogor benar-benar terlihat indah. Semburat cahaya oranye mengiringi langkah kaki ku yang ringan.

Untuk beasiswa Ignacy, aku juga lolos. Tapi karena beberapa pertimbangan aku lebih memilih StuNed. Pertimbangan itu antara lain; rangking WUR yang lebih tinggi, di Belanda banyak yang bisa bahasa inggris sementara di Polandia aku harus ikut program belajar bahasa Polish selama setahun, StuNed juga mengcover lebih banyak biaya dibanding Ignacy, karena di Ignacy kita harus menanggung tiket pesawat sendiri.

Sebelum berangkat ke Belanda, penerima beasiswa StuNed diharuskan mengikuti pelatihan bahasa dan budaya selama dua minggu di taal centrum di kedubes Belanda. Aku sih enjoy aja mengikuti prosesnya karena bisa sekalian dekat ke kedubes untuk mengurus visa dan segala macam.

Demikian lah perjalanan saya. Semoga bisa diambil hikmah. Kadang aku berpikir mungkin kalau aku tidak ngotot buru-buru, aku bisa dapat di universitas yang lebih bergengsi. Itu delapan atau lebih beasiswa aku lamar dalam kurun 4 bulan hoho. Tapi kalau selain StuNed belum tentu aku bisa dapet kesempatan buat cari pengalaman kerja di perusahaan bioteknologi di belanda.

Akhir kata, saat pelepasan awardee ke Belanda, koordinator StuNed bilang, “Jangan pernah berpikir kalian dapat beasiswa ini karena beruntung. No. You got it because YOU DESERVE IT.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s