Menyoal Rape Culture

Dengan adanya media sosial di zaman ini, kasus pelecehan seksual semakin banyak bisa terungkap, karena korban dapat bersuara secara anonim dan mendapat banyak dukungan. Momentum ini sering dimanfaatkan oleh influencer dan aktivis feminisme untuk menyebarkan ide mereka.

Menurut mereka, kita harus selalu berpihak kepada korban, walaupun kita belum tahu pasti kebenarannya. Itu karena selama ini, ketika perempuan melaporkan kasus pelecehan seksual, mereka akan dikesampingkan, tidak dianggap serius, dan malah perempuan tersebut dipertanyakan apakah pakaiannya mengundang. Mereka menyebut itu sebagai bagian dari Rape culture.

Rape culture sendiri artinya adalah pemerkosaan sudah dianggap biasa di suatu masyarakat dan ketika terjadi pemerkosaan maka perempuan yang disalahkan. Untuk membuktikan kasus pemerkosaan tidak mudah. Biasanya tidak ada saksi, untuk bukti pun harus dilakukan visum seluruh tubuh yang biasanya susah dilakukan karena korban trauma, pelaku pun bisa bilang kalau hubungan itu atas dasar suka sama suka. Karena frustasi akan hal tersebut maka muncul solusi “gerakan berpihak kepada korban dari awal walau belum ada bukti”.

Solusi tersebut berbahaya. Penuduhan tanpa bukti dapat menjadi fitnah dan kalau tidak benar dapat menghancurkan nama dan hidup seseorang. Selain itu, solusi itu juga tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Akar permasalahannya adalah banyak laki-laki yang tidak bermoral, objektifikasi perempuan, dan peraturan hukum yang lemah. Untuk menyelesaikan nya dibutuhkan solusi komprehensif sebagai berikut;

Pertama, tanamkan akidah islam di setiap individu. Kita harus sadar kalau kita selalu diawasi Allah dan sadar pula akan tujuan hidup kita agar tidak macam-macam. Bagi laki-laki, jangankan untuk memperkosa, melihat perempuan ketika sudah muncul syahwat saja dilarang, berdua-duaan si tempat sepi pun dilarang. Bagi perempuan, wajib menutup aurat dan ketika keluar rumah dan wajib meminta izin wali atau suami agar dipastikan keamanannya.

Kedua, rangsangan eksternal harus dikurangi. Media saat ini terlalu banyak menjadikan wajah dan tubuh perempuan sebagai komoditas demi keuntungan materiil, maka media harus diatur. Masyarakat pun berperan untuk melangsungkan gaya hidup islami. Karena pergaulan bebas banyak menjadi penyebab dari kasus pemerkosaan.

Ketiga, hukuman untuk pemerkosa harus tegas dan membuat takut. Tidak dapat disangkal bahwa walaupun tindakan preventif sudah dilakukan, pasti akan ada saja yang menyimpang di masyarakat. Dalam hal itu maka hukuman harus dibuat menakutkan. Dalam islam, pemerkosa dan pezina dirajam atau dilempari batu di jalan umum sampai meninggal. Pelaksanaan hukuman secara publik tersebut dapat membuat orang takut untuk melakukan larangan Allah tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s