Only Know You Want It When You Let it Go

Kehidupan saat corona ternyata bisa membuat bosan juga bahkan untuk seorang introvert sepertiku. Rencana awalku saat pulang ke Indonesia adalah untuk “healing”, kerja jadi dosen yang santai, lalu mungkin kalau aku mau phd atau suami keterima kerja di luar negri, kita bakal pindah ke luar. Tapi ternyata corona berkata lain. Aku memutuskan lebih baik ngga kerja dulu, dan fokus jadi IRT atau istri rumah tangga (karena belum punya anak). Lalu akupun bosan.

Terus awal tahun 2021 teman yang di Belgia ngasih tau ada lowongan phd di kampusnya, jadi aku kirim cv aja langsung dan wawancara. Aku sudah melewati dua tahap wawancara tapi tidak diterima padahal di tahap kedua itu tinggal dua kandidat. It’s okay. Saat itu aku memang tidak kebayang cara ke luar negri saat masih lockdown gimana.

Walaupun saat itu aku ditolak, tapi setidaknya jadi muncul motivasi dan tingkat kepercayaan diriku meningkat. Padahal dulu trauma banget pas master thesis. Sama sekali merasa tidak kompeten, merasa gak bisa bahasa inggris, gak bisa ngoding, ga ngerti biologi. Tapi alhamdulillah, waktu bisa menyembuhkan itu.

Terus aku mikir apa aku ngulang S2 aja ya di bidang cognitive science atau biologi. Toh aku seneng belajar dan kalau dapat beasiswa juga kan jadi sama aja kaya digaji buat belajar. Terus aku coba mau apply ke korea, tapi ternyata dokumen persyaratan nya sangat ribet, lalu ngga jadi.

Kemudian aku teringat hukum delapan aplikasi, “untuk mendapat beasiswa, maksimal di aplikasi kedelapan akan diterima”. Jadi yasudahlah aku akan coba-coba untuk mengisi kuota delapan aplikasi tersebut. Ternyata guys, langsung diterima di aplikasi kedua. Aku daftar di Universitas di Korea di Data Science Lab. Terus aku jadi mati gaya karena tidak menyangka akan diterima.

Terus aku jadi mikir-mikir, soalnya kita sebagai mahasiswa phd dikasih gaji atau beasiswa, tapi pesawat kita nanggung sendiri, test swab beberapa kali juga nanggung sendiri (pas itu masih sejuta), karantina di sana juga harus kita tanggung sendiri, pokonya banyak yang bikin tidak yakin. Terus ternyata aku harus ngirim ijazah master yang udah di apostille di lembaga hukum nasional. Pada kasus ku, berarti aku harus apostile ijazah aku ke Belanda. dan aku belum melakukannya padahal udah diingetin sama orang-orang buat legalisir ijazah sebelum pulang ke Indonesia. Tapi karena saat itu aku udah mental breakdown, jadi aku nganggep aku akan pensiun super dini, and I didn’t bother ngurus-ngurus begituan. So this sealed the deal that I couldn’t go there for phd.

So, aku akan tetap lanjut mencari phd atau maybe just doing some research in a university because it’s my heart calling. Wish me luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s