Mommy Issue

We all know and familiar with the term daddy issue. Kalau di Amerika biasanya daddy issue itu ditunjukan untuk orang yang punya preferensi untuk mencari pasangan yang jauh lebih tua karena mereka tidak tumbuh bersama sosok ayah di hidup mereka. Itu definisi populer atau versi urban dictionary, dan mungkin ada versi definisi ilmiah lainnya.

Tapi sebenarnya ada juga yang namanya mommy issue. Itu adalah keadaan psikologis dimana kita mencari approval dari sosok perempuan yang lebih dewasa, seperti profesor kita di kampus, manager kita di kantor, atau bahkan tetangga. Hal ini terjadi karena sosok ibu yang seharusnya menjadi tumpuan saat anak bertumbuh kembang, tidak bisa bisa menjadi safe space untuk anak tersebut. Misal, seorang ibu tidak peduli pada perasaan anaknya dan hanya peduli kalau anak tersebut berprestasi di sekolah. Hal itu membuat anak belajar kalau mereka hanya pantas disayangi hanya jika mereka punya pencapaian.

Ketika dewasa, jika anak itu bertemu dengan sosok yang punya kepribadian seperti ibunya, dia akan berusaha mencari approval dari sosok tersebut. Karena mereka familiar dengan perasaan bahagia saat mendapat approval tersebut. It feels like home to them. Hal ini tidak baik karena biasanya kita jadi lebih mementingkan apa yang sosok tersebut mau daripada apa yang kita inginkan*. Because we learned in our childhood that our feeling don’t matter, we don’t matter. We are just an extension of our parent. Jadi misal, ketika mendapat bos yang micromanage dan marah-marah terus, kita malah mengejar approval dari mereka. Di bawah sadar kita, kita merasa nyaman, walaupun kita tau itu situasi yang toxic untuk kita.

Kalau kita punya mommy issue, yang pertama harus dilakukan adalah menyadari dan menerima. Masa lalu kita adalah qadha dari Allah. Kita tidak bisa mengubah orang lain. Our parents want what’s best for us with all knowledge they have, so sometimes it’s not even their fault. Kita juga tidak bisa mengubah masa lalu,Tapi kita bisa mengubah diri kita dan masa depan kita walaupun itu sulit. Ketika kita menyadarinya, maka ketika kita dihadapkan dengan masalah tersebut, misal, kita merasa burnout di kerjaan karena kejar target and we feel that our voice is silenced, we have to realize that it was maybe our mommy issue in the working that causes this.

We have to realize that we are an adult individual, not just an extension of somebody. We are responsible for ourselves. We don’t need approval from others to be happy. It’s okay to have an opinion. We are capable of living our life as our true authentic self.

Wallahualam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s